Kemarau dan Intrusi Air Laut Ancam Sawah Banjarmasin, 30 Persen Lahan Pertanian Terdampak

Penulis: Udin Syamsul  •  Rabu, 04 November 2026 | 15:16:01 WIB
Petani memeriksa tanaman padi di kawasan persawahan Sungai Lulut, Banjarmasin Timur.

BANJARMASIN — Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin mencatat penurunan produksi padi pada musim panen tahun ini. Selain curah hujan yang minim, masuknya air laut ke saluran irigasi sawah memperparah kondisi tanaman.

Staf Bidang Pertanian DKP3 Banjarmasin, Raihani, menyebut kawasan Sungai Lulut, Kecamatan Banjarmasin Timur, sebagai salah satu titik paling rentan. Wilayah itu berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjar dan sempat terdampak kebakaran lahan di sekitarnya.

Bulir Padi Hampa, Produksi Petani Menyusut

Penurunan hasil panen terutama disebabkan bulir padi yang tidak terisi sempurna. Kualitas beras dinilai masih baik, tetapi jumlah gabah yang bisa dipanen berkurang.

"Kalau kualitas berasnya sendiri masih bagus. Namun, secara kuantitas produksinya menurun, karena banyak bulir padi yang hampa atau tidak terisi sempurna. Akibatnya, hasil panen yang diperoleh petani tidak sebanyak biasanya," kata Raihani.

Puncak musim panen di Banjarmasin biasanya berlangsung sekitar September. Cuaca kering membuat sejumlah lahan tidak mampu berproduksi optimal pada periode tersebut.

Air Asin Masuk ke Sawah, Pertumbuhan Padi Terganggu

Selain kekeringan, petani menghadapi intrusi air laut. Air asin yang masuk ke kawasan persawahan membuat sumber air tidak lagi layak untuk pertumbuhan tanaman padi.

Kondisi itu mengganggu proses pengisian bulir. Gabah yang dihasilkan banyak yang kosong sehingga bobot panen ikut turun.

"Jadi, selain kekeringan kita juga mengalami intrusi air laut. Air laut yang masuk ke lahan persawahan menyebabkan air menjadi asin. Dampaknya, pertumbuhan padi terganggu dan bulirnya juga menjadi kosong," jelas Raihani.

Kebakaran Lahan Merembet ke Sebagian Sawah Warga

Ancaman kebakaran lahan turut menambah beban petani di Banjarmasin Timur. Api dari wilayah sekitar sempat merembet ke sebagian lahan pertanian milik warga.

Meski begitu, DKP3 memastikan tidak seluruh area persawahan mengalami kerusakan akibat kebakaran. Luasan lahan yang terbakar belum disebutkan secara rinci.

Dampak kemarau tahun ini berbeda dari musim biasa karena tiga persoalan datang bersamaan: kekurangan air, intrusi air laut, dan kebakaran lahan di sekitar sawah. Petani di kawasan berbatasan Kabupaten Banjar itu menjadi pihak paling terdampak.

Reporter: Udin Syamsul
Sumber: radarbanjarmasin.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top