Amazon MGM Studios Jepang Gandakan Investasi Konten, Incar Standar Global

Penulis: Udin Syamsul  •  Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:52:31 WIB
Kepala Studio Amazon MGM Studios Japan Buddy Marini memaparkan strategi investasi konten dalam panel TIFFCOM di Tokyo.

KALIMANTAN SELATAN — Amazon MGM Studios Japan resmi menggandakan anggaran investasi kontennya untuk menembus pasar global, diumumkan Kepala Studio Buddy Marini dalam sesi pasar TIFFCOM Tokyo International Film Festival. Langkah ini menyasar produksi film, serial, hingga anime lokal Jepang agar kualitasnya setara standar internasional. Marini menegaskan strategi tersebut sebagai respons atas perilaku penonton global yang kian tidak mempermasalahkan asal negara sebuah karya.

Buddy Marini memaparkan strategi investasi itu dalam panel bertema potensi global IP Jepang yang digelar Motion Picture Association (MPA) bersama UniJapan. Ia didampingi CEO Credeus Matsuhashi Shinzo dan produser eksekutif serial Netflix "One Piece", Steven Maeda. Sosiolog sekaligus konsultan hiburan Nakayama Atsuo bertindak sebagai moderator diskusi.

Marini baru menjabat sebagai kepala studio Jepang pada Maret lalu. Posisi itu memberinya kendali atas produksi film, serial, dan anime orisinal dari Jepang. Sebelumnya ia menjabat managing director Warner Bros. Discovery Japan, CEO Hulu Japan, dan mendirikan platform Mangamo.

Cara Amazon MGM Studios Jepang Kelola Produksi

Menurut Marini, platformnya menangani seluruh rantai produksi sejak tahap ide awal. Proses itu mencakup perencanaan, pengembangan, strategi, investasi, hingga produk final. Strategi dasar studio, baik di Jepang maupun secara global, adalah memperluas jangkauan ke pasar internasional.

"Ada berbagai jenis penonton, jadi tujuannya menjangkau mereka semua. Kami menangani semua jenis konten, apa pun genrenya," ujar Marini dalam sesi tersebut.

Ia menilai Amazon punya keunggulan lewat paket layanan bagi anggota Prime, termasuk akses film. Fokus utama perusahaan tetap memuaskan audiens di negara atau kawasan tertentu. Namun dari situ, layanan global membuat penonton dunia tak lagi mempersoalkan asal konten.

"Karena layanan kami global, audiens kami tidak terlalu peduli konten itu berasal dari negara mana. Mereka hanya berpikir, kalau menarik ya menarik. Jadi kami menggandakan investasi untuk memastikan kualitasnya memenuhi standar global," kata Marini.

Proyek Adaptasi Live-Action Jadi Andalan

Slate studio Jepang itu mencakup "The Apothecary Diaries", adaptasi live-action dari franchise misteri sejarah laris. Ada pula "Bless", adaptasi live-action manga populer tentang calon artis tata rias. Keduanya menandai arah studio yang agresif menggarap IP Jepang untuk penonton lintas negara.

Salah satu judul Jepang yang sudah tayang di Prime adalah "The Silent Service". Serial live-action itu mengisahkan kapten kapal selam Jepang yang membajak kapal selam Amerika, diangkat dari manga panjang yang juga melahirkan anime hits.

"Kami meraih hasil luar biasa dengan serial itu, tapi mempertahankan level kualitas tersebut tidak mudah," ujar Marini.

Ia menyebut proses reverse-engineering sebagai faktor terpenting untuk mengangkat konten menjadi IP yang bergema global. Tim kreatif di dalam studio bekerja erat dengan penulis skenario menyusun naskah. Tujuannya memastikan cerita yang dibangun benar-benar memikat dari sudut pandang penonton dunia.

Rekam Jejak Matsuhashi dan Rumus Produksinya

Matsuhashi Shinzo hadir membawa catatan produksi yang mentereng. Kreditnya sebagai produser termasuk "Kokuho" yang mencetak rekor box office sepanjang masa film live-action Jepang. Ia juga menggarap seri aksi periode "Kingdom", komedi aksi "Gintama", "Blue Lock", dan "Golden Kamuy".

Ia bergabung dengan Wowow pada 1994 dan debut sebagai produser lewat "Battle Royale". Matsuhashi memilih independen pada 2005, lalu mendirikan Credeus sekitar delapan tahun lalu. "Saya sadar tidak akan bisa membuat karya yang saya bayangkan kecuali melakukan itu, jadi itulah pilihan yang saya ambil," ujarnya.

Sebagai produser, Matsuhashi mengembangkan apa yang ia sebut rasio produksi yang tepat. Cerita harus menarik lebih dulu, lalu diubah menjadi naskah yang kuat. Setelah itu sutradara dan kru unggul didatangkan, disusul penyusunan cast yang tepat. Menurutnya, sebuah karya baru mendekati peluang sukses bila semua elemen itu menyatu.

Buktinya terlihat dari rekam jejaknya. Film-film yang ia produksi menembus total box office kumulatif 100 miliar yen atau sekitar 633 juta dolar AS pada tahun ini. Titik terobosannya adalah seri "Kingdom" yang berlatar era Negara Berperang di Tiongkok dan diangkat dari manga populer. Diluncurkan pada 2019, seri itu kini berisi lima film layar lebar.

Awalnya, Sanford Panitch yang kala itu memimpin produksi internasional Sony Pictures mendekatinya soal pembuatan film lokal Jepang. Matsuhashi bertanya apakah Panitch ingin memenuhi kuota produksi dengan tiga film atau merevolusi perfilman Jepang. Panitch memilih opsi kedua, dan Matsuhashi membawa konsep tiga film "Kingdom" sebagai satu paket bisnis.

Panitch menyetujuinya. Tiga film pertama masing-masing meraup lebih dari 5 miliar yen atau sekitar 31,7 juta dolar AS, menjadikannya hits besar di box office Jepang. Pelajarannya jelas: visi berani dengan elemen yang tepat bisa menghasilkan imbal balik besar.

Langkah Amazon MGM Studios Japan menambah panas persaingan platform global di pasar konten Jepang. Bagi penonton Indonesia, gelombang investasi ini berpotensi memperbanyak judul adaptasi manga dan anime berkualitas yang mendarat di layanan streaming dalam waktu dekat.

Reporter: Udin Syamsul
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top