KALIMANTAN SELATAN — Uji jalan di sekitar Nürburgring bukan hal aneh untuk Mercedes-Benz. Yang menarik justru bentuk bodinya. Setelah bertahun-tahun lini EQ dipisahkan sebagai keluarga EV tersendiri, prototipe ini kembali ke proporsi sedan konvensional.
Dari foto yang beredar, sebagian besar bodi masih tertutup kamuflase tebal. Tapi garis atap, proporsi kap mesin, dan siluet keseluruhan sudah bisa dibaca: ini sedan tiga kotak, bukan liftback membulat seperti EQE.
Menurut Autoblog, model ini akan dinamai Mercedes-Benz E-Class dengan Teknologi EQ. Artinya, EQ tidak lagi jadi keluarga model terpisah, melainkan penanda teknologi penggerak listrik yang menempel pada nama model konvensional.
Langkah ini masuk akal secara komersial. EQE dan EQS dikenal sebagai EV yang mulus dan senyap, tapi sering dikritik karena desainnya kurang diterima pasar dibanding S-Class atau E-Class biasa. Dengan menyatukan kembali nomenklatur, Mercedes-Benz berharap pelanggan lama tidak merasa harus pindah "kelas" hanya karena beralih ke listrik.
Bagian depan menampilkan lampu daytime running light dengan motif bintang tiga sudut khas Mercedes-Benz. Unit lampu utamanya tampak lebih panjang dibanding milik C-Class listrik, memberi kesan posisi model yang lebih tinggi di lineup.
Di bawah bumper, ada saluran udara dan lubang di kedua sisi. Fungsinya diyakini untuk mendinginkan sistem pengereman, bukan sekadar elemen dekoratif. Kap mesin punya garis bodi lebih tegas dan tajam dibanding EQE yang cenderung polos.
Dua detail lain yang mencolok:
Pilihan gagang pintu fisik bisa dibaca sebagai sinyal pragmatis. Beberapa pengguna EV di iklim dingin mengeluhkan gagang flush yang membeku atau macet. Mercedes-Benz tampaknya belum mau sepenuhnya mengikuti tren itu.
Peluncuran diperkirakan pada 2027 sebagai model tahun 2028, satu tahun lebih awal dari rencana semula. Ini menempatkan E-Class listrik bersaing langsung dengan BMW i5 dan Audi A6 e-tron di segmen sedan eksekutif listrik.
Untuk pasar Indonesia, Mercedes-Benz sudah aktif menjual lini EQ lewat distributor resmi. Kalau nomenklatur berubah menjadi E-Class dengan Teknologi EQ, konsumen lokal kemungkinan akan melihat nama yang lebih familiar di showroom, meski harga dan spesifikasi teknis belum bisa dipastikan dari prototipe ini.
Yang perlu diperhatikan: ini masih tahap prototipe uji. Spesifikasi baterai, tenaga motor, jarak tempuh, dan waktu pengisian belum diumumkan resmi. Semua angka yang beredar saat ini masih spekulatif.
Yang sudah pasti, arah desain Mercedes-Benz untuk EV generasi berikutnya berubah. Bukan lagi soal seberapa aerodinamis bentuknya, tapi seberapa cepat pelanggan lama merasa "ini Mercedes-Benz yang saya kenal".