BANJARMASIN — Membaca mendalam dinilai semestinya menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan di perguruan tinggi. Gagasan itu disampaikan dalam sebuah pertemuan evaluasi dan penyamaan persepsi dosen di Banjarmasin.
Tujuannya sederhana: melahirkan lulusan yang memiliki karakter luhur, kompetensi mapan, dan literasi yang luas. Membaca tidak hanya untuk mengetahui yang tertulis, tapi juga memahami yang tersembunyi di balik tulisan.
Ide tersebut dikemukakan karena pengetahuan yang bertambah belum tentu membuat seseorang menjadi lebih bijaksana. Pengetahuan perlu diolah oleh pikiran, diuji oleh pengalaman, dan dituntun oleh nilai.
Di titik itu, membaca mendalam menjadi bekal yang masuk akal. Bukan karena memperbanyak buku yang selesai dibaca, tapi karena memperpanjang jarak antara membaca dan menyimpulkan.
Membaca mendalam memberi ruang untuk memahami, menganalisa, dan berpikir kritis sebelum menilai dan menyimpulkan.
Kebutuhan itu semakin penting karena kemampuan literasi Indonesia pada 2022 hanya sekitar 25 persen. Rerata pada negara anggota OECD sudah mencapai 74 persen.
Angka itu tidak boleh dipakai sebagai ukuran tunggal mutu pendidikan. Namun dapat dijadikan cermin bahwa daya paham informasi mendalam masih perlu dinaikkan.
Membaca mendalam membuat seseorang dapat memilih, memilah, dan membedakan opini dengan fakta. Bahkan membedakan kebenaran dengan pembenaran.
Yang perlu disadari, membaca mendalam tidak lahir tiba-tiba. Perlu diawali dengan banyak membaca berbagai bidang keilmuan, mengasah kemampuan menulis, dan kecakapan berhitung.
Dari sana dibangun kebiasaan bertanya dan memeriksa yang dianggap benar dengan membandingkan hasil bacaan dari berbagai sumber.
Hasil penelitian menemukan fenomena bahwa membaca perlu dipertemukan dengan menulis dan berhitung. Membaca memperkaya pikiran, menulis menertibkan pikiran, sedangkan berhitung melatih ketelitian memahami fakta.
Untuk itu diperlukan sikap skeptis yang sehat. Yakni tak langsung percaya ataupun langsung menolak, tapi membiasakan mencari informasi, membandingkan sumber, menemukan bukti, dan mendengarkan gagasan lain.
Semua itu dilakukan sebelum menyusun kesimpulan dengan alasan yang masuk akal dan dipertanggungjawabkan.
Pengetahuan yang didapat ketika membaca harus mampu dikembalikan kepada orang lain. Melalui narasi, pembicaraan, tulisan, atau opini.
Kemampuan berpikir kritis untuk melihat kredibilitas sumber, kelemahan logika, dan kemampuan menilai bukti menjadi penting dimiliki. Setidaknya akan mampu diketahui yang benar, baik, dan bermanfaat sehingga tak mudah ikut larut dalam berita bohong.
Kekuatan gagasan membaca mendalam justru terletak pada kemampuannya menghubungkan pengetahuan dengan karakter. Tak hanya tahu tapi mampu mempertanyakan, tak hanya dapat menjawab tetapi mampu mendengar.
Tak hanya berpendapat tetapi menguji pendapat sendiri. Pada titik itu, pendidikan bergerak dari sekadar transfer pengetahuan menuju pembentukan manusia yang rendah hati terhadap kebenaran.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan tak lagi tergantung pada kemampuan memberi jawaban. Tetapi kemampuannya mengajukan pertanyaan yang tepat.
Pertanyaan yang baik lahir dari membaca, ditumbuhkan dari rasa ingin tahu, diuji oleh data, dipertajam oleh dialog, lalu diarahkan oleh nilai dan kearifan.
Dari sanalah muncul lulusan yang tidak mudah hanyut oleh riuh informasi, bisa membaca tanda zaman, mencermati yang tersirat, dan kemudian bertindak secara tepat. Dalam ungkapan Jawa, menjadi tanggap ing sasmita, peka membaca tanda dan makna.