KALIMANTAN SELATAN — Tekanan terhadap mata uang Garuda kembali menguat di tengah memanasnya konflik di kawasan Teluk. Ancaman AS untuk memberlakukan sanksi ekonomi baru terhadap Iran membuat pelaku pasar beralih ke aset aman, meninggalkan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut sentimen eksternal menjadi pemicu utama depresiasi rupiah pada hari ini. Pergerakan ini terjadi di tengah kebuntuan situasi di Selat Hormuz yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sebelumnya menyatakan akan mengumumkan rangkaian sanksi terberat sepanjang sejarah terhadap Iran. Ia menyebut istilah "D-Day ekonomi" untuk menggambarkan dampak dari kebijakan yang akan dijatuhkan.
"Pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent muncul setelah sejumlah pejabat AS, termasuk Presiden Donald Trump, memperingatkan adanya perang ekonomi terhadap negara tersebut, di tengah kebuntuan yang terus berlanjut di Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda," tulis Ibrahim dalam risetnya, Senin (24/8/2026).
Bessent dikabarkan akan memaparkan detail sanksi baru tersebut dalam konferensi pers pada pukul 14.00 waktu setempat. Langkah ini mempertegas sikap Washington yang terus menekan Teheran di tengah ketegangan yang belum mereda.
Di sisi lain, Teheran merespons keras rencana sanksi tersebut. Meskipun Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan solusi diplomatik, pernyataan tegas datang dari Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaee.
Rezaee menyatakan "tidak akan ada satu tetes minyak pun yang diekspor" melalui Selat Hormuz sebagai bentuk perlawanan. Ancaman ini menjadi perhatian serius pasar mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia.
Dengan situasi geopolitik yang masih fluktuatif, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut. Pelaku pasar akan mencermati keputusan kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) serta perkembangan terbaru dari konferensi pers Menkeu AS.
Di sisi domestik, pelaku pasar juga menantikan data fundamental ekonomi Indonesia sebagai penyeimbang sentimen negatif dari eksternal. Namun, selama ketegangan di Timur Tengah belum mereda, permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven diprediksi tetap tinggi.
Investasi mengandung risiko.