Bagi yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Banjarmasin, aroma campuran rempah dan asap dari puluhan perahu di atas Sungai Martapura langsung terasa. Kota seribu sungai ini bukan cuma soal pasar terapung. Di balik hiruk pikuk Jalan Ahmad Yani dan kawasan Pasar Sudimampir, ada deretan oleh-oleh yang sudah mengakar puluhan tahun.
Oleh-oleh khas Kalimantan Selatan tidak melulu soal rasa. Beberapa di antaranya membawa cerita tentang adaptasi masyarakat Banjar terhadap alam rawa dan sungai. Berikut enam pilihan yang layak masuk daftar bawaan pulang, tanpa perlu ragu soal selera.
Amplang bukan sekadar kerupuk ikan biasa. Teksturnya renyah, tapi tidak keras seperti kerupuk udang pada umumnya. Bahan dasarnya adalah daging ikan tenggiri atau belida yang dicampur tapioka, lalu digoreng hingga mengembang sempurna.
Di Banjarmasin, amplang produksi rumahan tersebar di kawasan Kelurahan Sungai Andai dan Jalan Veteran. Beberapa produsen sudah eksis sejak era 1980-an. Rasa originalnya gurih dengan sedikit rasa ikan yang tidak amis. Varian pedas juga mulai banyak dicari, terutama oleh perantau yang rindu sensasi lauk kering.
Tips memilih: amplang yang baik tidak berminyak berlebihan dan tidak cepat melempem. Simpan di wadah kedap udara supaya tetap renyah sampai tujuan.
Kue bingka adalah ikon kue tradisional Banjar yang hampir selalu ada di acara pernikahan dan syukuran. Berbeda dengan bingka versi daerah lain, kue bingka Banjar menggunakan singkong parut sebagai bahan utama, dicampur santan kental, gula, dan telur.
Proses pembuatannya unik. Adonan dimasak di atas tungku arang atau kompor dengan api kecil selama berjam-jam. Hasilnya, bagian luar kering dan sedikit gosong, sementara dalamnya lembut seperti puding. Aroma karamel dan santan bakar langsung tercium begitu bungkusnya dibuka.
Paling mudah ditemukan di Pasar Teluk Dalam atau toko oleh-oleh di sepanjang Jalan Pangeran Samudera. Kue ini tahan hingga tiga hari tanpa kulkas, asal dibungkus rapat.
Sasirangan bukan sekadar kain. Teknik pembuatannya termasuk batik jumputan, di mana kain diikat dan dicelup berkali-kali untuk membentuk motif. Nama "sasirangan" berasal dari kata "sirang" dalam bahasa Banjar yang berarti mengikat atau menjahit.
Motif klasik seperti gigi haruan (gigi ikan gabus) dan kangkung kaombakan (kangkung terbawa arus) sarat makna filosofis. Kini motif modern seperti geometris dan floral juga banyak diproduksi untuk menarik generasi muda.
Pusat oleh-oleh batik sasirangan terkonsentrasi di kawasan Jalan Hasanudin dan sekitar Pasar Batuah Banjarmasin. Harga bervariasi tergantung kerumitan motif dan jenis kain. Untuk pemula, selendang atau tas kecil bisa jadi pilihan aman.
Wajip adalah kue tradisional berbahan dasar ketan hitam yang dimasak dengan santan dan gula merah. Teksturnya lengket, mirip dodol tapi lebih padat. Uniknya, wajip dibungkus dengan daun pisang atau daun jagung yang sudah dikeringkan, memberi aroma khas saat dibuka.
Di Kalimantan Selatan, wajip sering disajikan saat perayaan tertentu, termasuk acara baayun maulid. Rasa manisnya pekat, cocok sebagai teman minum kopi hitam Banjar yang pahit.
Wajip paling segar ditemukan di pasar tradisional seperti Pasar Tungging atau Pasar Kelayan. Karena tanpa pengawet, sebaiknya habiskan dalam 2-3 hari. Kalau ingin lebih awet, simpan di kulkas dan kukus sebentar sebelum dimakan.
Haruan atau ikan gabus adalah ikan air tawar yang melimpah di rawa-rawa Kalimantan. Ikan ini diolah menjadi ikan asin dengan cara penggaraman dan penjemuran di bawah terik matahari Banjar. Hasilnya, ikan kering yang tidak terlalu asin dan punya tekstur daging tebal.
Ikan asin haruan terkenal sebagai sumber albumin yang baik. Di kampung-kampung pinggir sungai, warga biasa mengolahnya menjadi gorengan atau dimasak dengan santan dan cabai rawit.
Paling mudah ditemukan di kawasan Pasar Induk Banjarmasin atau di toko oleh-oleh sepanjang Jalan Lambung Mangkurat. Pastikan memilih ikan yang kering sempurna dan tidak berjamur. Bungkus dengan kertas koran atau plastik kedap udara sebelum dimasukkan koper.
Kopi Banjar bukan kopi biasa. Biji kopi robusta lokal biasanya disangrai dengan tambahan beras ketan atau jagung, menghasilkan aroma smoky dan rasa yang lebih ringan di lambung. Cara penyajiannya pun khas: diseduh dengan air mendidih di dalam cangkir tanah liat atau gelas kaca tebal, lalu diaduk dengan sendok kayu.
Beberapa kedai kopi tua di kawasan Jalan Veteran dan Jalan Pasar Baru masih mempertahankan resep turun-temurun. Kopi bubuk Banjar bisa dibeli dalam kemasan plastik atau toples. Rasanya cocok untuk diminum tanpa gula karena proses sangrai sudah memberi sedikit rasa manis karamel.
Untuk oleh-oleh, pilih kopi yang masih baru digiling. Umur simpan kopi bubuk sekitar dua minggu dalam wadah tertutup rapat. Jangan lupa minta saran dari penjual soal takaran seduh yang pas.
Apakah amplang bisa bertahan lama tanpa kulkas?
Ya, amplang bisa tahan hingga satu bulan jika disimpan di wadah kedap udara dan tidak terkena sinar matahari langsung.
Kue bingka terbuat dari apa saja?
Bahan utamanya singkong parut, santan, gula pasir, telur, dan sedikit garam. Beberapa variasi menambahkan daun pandan atau vanili.
Di mana tempat belanja batik sasirangan di Banjarmasin?
Pusatnya di sekitar Jalan Hasanudin dan Pasar Batuah. Banyak juga toko di mal seperti Duta Mall Banjarmasin.
Apakah ikan asin haruan aman dibawa naik pesawat?
Aman, asal dibungkus rapat untuk mencegah bau menyebar. Beberapa maskapai melarang ikan asin dalam kabin, jadi masukkan ke bagasi.
Kopi Banjar bedanya apa dengan kopi luwak?
Kopi Banjar adalah kopi robusta yang disangrai dengan campuran beras atau jagung, bukan hasil fermentasi hewan. Rasanya lebih earthy dan tidak terlalu asam.
Oleh-oleh khas Kalimantan Selatan bukan sekadar benda. Amplang, kue bingka, batik sasirangan, wajip, ikan asin haruan, dan kopi Banjar menyimpan jejak panjang adaptasi masyarakat Banjar terhadap alam sungai dan rawa. Pilih sesuai selera, tapi pastikan satu hal: jangan lupa mencicipi sendiri sebelum membeli dalam jumlah banyak. Soal rasa, lidah adalah hakim terbaik.