Biaya Hidup Mencekik, Generasi Muda Hulu Sungai Tengah Beralih ke Frugal Living dan Tinggalkan FOMO

Penulis: Reza Maulana  •  Senin, 29 Juni 2026 | 21:16:31 WIB
Generasi muda Hulu Sungai Tengah beralih ke gaya hidup hemat sebagai respons terhadap meningkatnya biaya hidup.

BARABAI — Pergeseran pola konsumsi ini terlihat jelas dari rutinitas anak muda setempat. Dulu, membeli barang karena tren atau viral di media sosial adalah hal biasa. Kini, kebutuhan pokok menjadi prioritas utama. Frugal living, atau gaya hidup hemat, dipilih bukan karena pelit, melainkan sebagai strategi bertahan di tengah himpitan ekonomi.

Salah satu contohnya adalah Hikmah, warga HST yang kini menjadi tulang punggung keluarga. Kedua orang tuanya sudah tidak bekerja. Ia pun harus beradaptasi dengan kerasnya realita ekonomi.

Prioritas Berubah: Dari Koleksi Barang ke Kebutuhan Harian

“Dulu aku suka beli barang-barang lucu. Bahkan satu jenis barang bisa punya beberapa dengan merek yang berbeda. Sekarang sudah beda. Biaya hidup dan kebutuhan keluarga jauh lebih penting daripada mengikuti gaya hidup,” ujar Hikmah kepada Pojokbanua.com, Senin (29/6/2026).

Menurutnya, perubahan ini tidak mudah. Namun, tanggung jawab sebagai pencari nafkah memaksanya menahan diri dari keinginan membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan. Setiap pengeluaran kini dipertimbangkan matang-matang.

Hidup Mandiri di Barabai, Syok dengan Mahalnya Biaya

Pengalaman serupa dirasakan Nazma, seorang pekerja yang tinggal sendiri di Barabai. Hidup mandiri memaksanya mengatur setiap pemasukan agar cukup memenuhi seluruh kebutuhan selama sebulan.

“Awalnya agak syok juga waktu mulai hidup sendiri, ternyata apa-apa mahal. Biaya sewa rumah, listrik, air, makan, sampai kebutuhan sehari-hari harus dipikirkan sendiri,” katanya.

Nazma mengaku dulu mudah terjebak FOMO. “Punya tumbler sampai beberapa, terus tas juga sering ganti-ganti karena lihat yang lagi FYP di TikTok. Rasanya kalau lagi viral ingin ikut punya juga. Sekarang kalau mau beli sesuatu pasti dipikirkan dulu. Aku lebih mementingkan kebutuhan daripada keinginan supaya keuangan tetap cukup sampai akhir bulan,” tambahnya.

Ia juga mengungkapkan, saat masih tinggal di kampung halaman, ia cukup sering menghabiskan waktu nongkrong bersama teman-teman. Kini, setiap pengeluaran harus dipertimbangkan agar tidak mengganggu kebutuhan pokok.

Frugal Living Bukan Sekadar Tren, Tapi Kebutuhan

Fenomena ini membuktikan bahwa frugal living bukan lagi sekadar tren yang ramai diperbincangkan di media sosial. Di tengah meningkatnya biaya hidup, gaya hidup hemat mulai menjadi pilihan rasional bagi sebagian generasi muda untuk menjaga stabilitas keuangan. Dengan mengurangi belanja impulsif dan lebih bijak menentukan prioritas, mereka berupaya menyesuaikan diri dengan tantangan ekonomi tanpa mengesampingkan kebutuhan utama. (AS/KW)

Reporter: Reza Maulana
Sumber: pojokbanua.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top