KALIMANTAN SELATAN — Laporan keuangan PLN menunjukkan realitas pahit di tengah tekanan harga energi global. Beban bahan bakar dan pelumas yang mencapai Rp198 triliun pada 2025 membuat kas perusahaan terkuras habis.
Grup Pertamina menjadi pemasok energi terbesar PLN. Nilai transaksi pembelian bahan bakar dan pelumas dari holding migas pelat merah itu mencapai Rp64,68 triliun sepanjang tahun lalu.
Tak hanya minyak dan gas, PLN juga menggelontorkan dana besar untuk batu bara. PT Bukit Asam Tbk tercatat menerima pembayaran Rp14,41 triliun dari PLN untuk pasokan komoditas hitam tersebut.
Secara total, transaksi bahan bakar dan pelumas PLN dengan perusahaan-perusahaan yang masih satu grup BUMN mencapai Rp80,18 triliun. Angka ini setara 40,38 persen dari total beban energi perseroan.
Artinya, hampir separuh uang yang dibelanjakan PLN untuk energi mengalir ke sesama BUMN. Sisanya dibayarkan ke pemasok swasta dan pihak ketiga lainnya.
Akibat beban energi yang meroket, laba tahun berjalan PLN jatuh ke level Rp7,26 triliun pada 2025. Bandingkan dengan tahun sebelumnya yang masih mencapai Rp21,23 triliun.
Penurunan laba ini langsung berdampak pada kas perusahaan. Arus kas bersih dari aktivitas operasi PLN merosot drastis menjadi hanya Rp9,91 triliun, dari sebelumnya Rp75,35 triliun pada 2024. Artinya, kemampuan PLN menghasilkan uang tunai dari bisnis inti menyusut hingga 87 persen.
Di sisi lain, pembayaran kepada pemasok dan pihak lainnya justru meningkat menjadi Rp447,77 triliun, naik dari Rp396,28 triliun pada tahun sebelumnya. Ini menunjukkan tekanan likuiditas yang semakin berat.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi direksi PLN untuk menekan biaya produksi listrik, terutama dari sisi bahan bakar yang masih mendominasi struktur biaya perusahaan.