BANJARMASIN — Bagi warga yang tumbuh di kota ini pada 1970 hingga 1980-an, perjalanan ke pusat kota belum terasa lengkap tanpa mampir ke Sudimampir dan Pasar Baru. Di kawasan itu, di antara lalu lalang becak, sepeda, dan angkutan kota, berdiri sebuah toko kecil yang justru paling dinanti anak-anak: Toko Minseng.
Yang dicari bukan kain atau sepatu, melainkan roti, kue sus, "kue siput", tart kelapa, dan ice cream. Aroma dari etalase itulah yang bertahan paling lama di ingatan banyak orang, jauh setelah harga sepotong roti atau baju yang dibeli ibu terlupakan.
Dari 1930 hingga Statistik Resmi Kota
Jejak tertulis menyebut usaha keluarga Tionghoa ini bermula pada 1930 di Jalan Pasar Baru. Bila angka itu tepat, Minseng sudah memanggang roti ketika Banjarmasin masih berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda.
Namun sejarah menuntut kehati-hatian. Angka 1930 berasal dari sumber sekunder, dan belum ditemukan arsip kolonial primer yang cukup untuk menetapkannya sebagai tanggal pendirian final. Kalimat yang lebih jujur: Minseng disebut telah berdiri sejak 1930, sebuah usia luar biasa panjang yang masih menyisakan pekerjaan rumah bagi peneliti sejarah kota.
Nama Minseng juga bukan sekadar legenda lisan. BPS Kota Banjarmasin mencatat toko ini dalam statistik industri manufaktur Banjarmasin Tengah tahun 2016 sebagai usaha pengolahan roti di Kertak Baru Ilir.
Pertigaan yang Menyimpan Fragmen Sejarah 1966
Sudut tempat Minseng berdiri pernah menjadi saksi peristiwa yang jauh lebih serius daripada urusan roti. Dalam catatan mengenai gerakan mahasiswa 1966 di Banjarmasin, pertigaan di depan Toko Minseng disebut sebagai lokasi Hasanuddin HM tertembak saat demonstrasi berlangsung.
Nama sebuah toko roti pun ikut tercatat dalam rekaman salah satu fragmen penting sejarah politik kota. Setelah itu, waktu berjalan dan Minseng kembali ke kesehariannya: memanggang roti dan melayani pembeli.
Masa Jaya 1980-an dan Tekanan Persaingan
Dekade 1980-an disebut sebagai puncak kejayaan Minseng. Pembeli datang ramai, bahkan sumber sekunder mencatat antrean pernah membuat para pekerjanya kewalahan.
Memasuki 1990-an, peta berubah. Bakery baru bermunculan, selera bergeser, kemasan ikut berubah, dan pusat perdagangan baru tumbuh di berbagai titik kota. Minseng tak lagi sendirian, tetapi tidak lenyap.
Roti Tawar, Ragi, dan Jembatan Antargenerasi
Roti tawar Minseng dahulu dijual utuh dengan bungkus kertas tipis. Kini roti itu telah dipotong dan dikemas plastik. Meski begitu, kesaksian pelanggan lama berulang kali kembali ke perkara yang sama: tekstur lembut, sedikit rasa asam dari ragi, dan aroma yang membawa mereka pulang ke masa kecil.
Seorang penulis mengenang sebungkus roti Minseng yang dahulu dibawa ayahnya sepulang kerja. Bertahun-tahun kemudian, roti yang sama ia belikan kembali untuk sang ayah. Sepotong roti tiba-tiba berubah menjadi jembatan antargenerasi.
Landmark Informal yang Masih Dipakai Pemerintah
Alamat Minseng masih dapat ditemukan di Jalan Pasar Baru No. 26. Pada 2026, pemerintah daerah bahkan masih menggunakan "depan Toko Roti Minseng" sebagai penanda lokasi pelayanan publik.
Setelah puluhan tahun, sebuah toko telah berubah menjadi semacam landmark informal kota. Orang mengenali tempat melalui namanya, bukan melalui nomor bangunan.
Membangun Baru Tanpa Menghapus Ingatan
Banjarmasin sedang berubah. Bangunan bertambah tinggi, pusat perdagangan bergeser, fasad lama berganti aluminium dan kaca. Modernisasi tak mungkin dihentikan, tetapi kota yang hanya sibuk membangun yang baru bisa perlahan kehilangan kemampuan mengingat.
Minseng menawarkan jalan lain. Bangunannya dapat diperbarui tanpa menghapus dirinya sendiri. Bentuk sudut, proporsi, jejak fasad, dan identitas lamanya bisa dipertahankan, lalu ditumbuhkan menjadi arsitektur yang lebih hijau, terbuka, dan adaptif.
Bukan membekukan Minseng menjadi museum, bukan pula membuat replika masa lalu. Biarkan bangunan lama memperoleh kehidupan baru sambil membawa ceritanya ke generasi berikutnya.
Dan lantai dasarnya sebaiknya tetap mengerjakan apa yang telah dilakukannya selama puluhan tahun: memanggang roti, menjual kue, dan menyendok ice cream. Biarkan anak-anak Banjarmasin generasi baru datang bersama orang tua mereka, mencium aroma yang sama, dan menyimpan kenangan itu untuk beberapa dekade berikutnya.