BANJARMASIN — Produk khas Kalimantan Selatan seperti amplang, getas, dan anyaman purun kini memiliki jalur resmi menuju pasar dunia. Pemprov Kalsel meresmikan operasional bank devisa yang memungkinkan pelaku UMKM melakukan transaksi ekspor langsung dari Banjarmasin tanpa harus ke Jakarta atau Surabaya.
Berapa Banyak UMKM yang Bisa Terbantu?
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalsel mencatat sedikitnya 1.200 pelaku UMKM di provinsi ini sudah siap ekspor. Dari jumlah itu, sekitar 400 di antaranya bergerak di sektor makanan ringan khas seperti amplang dan getas. Sisanya adalah perajin anyaman purun, pengolah ikan asin, dan produsen kopi lokal.
Selama ini, mereka mengandalkan jasa perantara atau eksportir di luar daerah. Konsekuensinya, margin keuntungan terkikis. "Kami harus kirim barang dulu ke Surabaya, baru dari sana dikirim lagi ke luar negeri. Biayanya besar," ujar seorang pengusaha amplang di Banjarmasin.
Proses Ekspor Kini Bisa Selesai dalam Sehari
Bank devisa yang baru beroperasi ini melayani pembukaan letter of credit (L/C), transfer valas, dan dokumen kepabeanan secara terintegrasi. Pelaku UMKM cukup datang ke kantor bank yang berlokasi di Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin, dengan membawa dokumen dasar seperti NPWP, SIUP, dan invoice.
Sebelum ada bank devisa, proses yang sama bisa memakan waktu hingga satu minggu karena harus berkirim dokumen ke bank di luar Kalsel. Kini, kata Kepala Disperindag Kalsel, waktu pengurusan dipangkas menjadi satu hingga dua hari kerja.
Apa Saja Syarat yang Harus Dipenuhi UMKM?
Pemprov Kalsel menetapkan beberapa syarat utama bagi UMKM yang ingin memanfaatkan fasilitas ini. Pertama, produk harus memiliki izin edar dari BPOM atau sertifikat halal jika berupa makanan. Kedua, pelaku usaha wajib memiliki rekening di bank devisa tersebut. Ketiga, nilai transaksi minimal Rp 10 juta per pengiriman.
Untuk tahap awal, bank devisa ini memprioritaskan produk makanan ringan dan kerajinan tangan yang sudah memiliki pangsa pasar di Malaysia, Brunei, dan Filipina. Pemerintah menargetkan nilai ekspor dari sektor UMKM Kalsel naik 20 persen pada tahun pertama operasional.
Kapan Bank Devisa Ini Mulai Melayani Transaksi?
Bank devisa resmi beroperasi sejak Senin lalu. Pemprov Kalsel menargetkan pada Maret 2026, seluruh dokumen ekspor UMKM sudah bisa diproses secara digital tanpa harus datang ke kantor bank. Saat ini, proses masih dilakukan secara hybrid—sebagian manual, sebagian daring.
Bagaimana Cara Mengakses Layanan Ini?
Pelaku UMKM di Kalsel bisa mendatangi kantor bank devisa di Banjarmasin atau menghubungi hotline yang disediakan Disperindag Kalsel. Pemerintah juga menyediakan pendamping gratis bagi UMKM yang belum paham prosedur ekspor. Pendampingan ini meliputi pembuatan dokumen, penentuan harga jual di pasar internasional, hingga negosiasi dengan buyer luar negeri.
Bagi UMKM di kabupaten seperti Tanah Laut, Banjar, atau Hulu Sungai Selatan, Pemprov berencana membuka layanan jemput bola setiap dua pekan sekali. Petugas bank akan datang ke sentra produksi untuk memproses dokumen di tempat.
Apa Dampak Langsung bagi Warga Kalsel?
Dengan adanya bank devisa, pelaku UMKM tidak perlu lagi membagi margin keuntungan dengan pihak ketiga. Seorang pengusaha getas di Martapura memperkirakan omzetnya bisa naik hingga 30 persen karena biaya pengiriman dan komisi perantara bisa dihemat. "Dulu dapat Rp 10 juta dari ekspor, setelah dipotong biaya, bersihnya cuma Rp 6 juta. Sekarang kami bisa dapat Rp 8 juta," katanya.
Pemerintah juga berharap lapangan kerja baru tercipta di sektor produksi. Jika permintaan ekspor meningkat, perajin anyaman purun di Kabupaten Hulu Sungai Utara misalnya, bisa merekrut lebih banyak tenaga kerja lokal.