Studio pengembang Build A Rocket Boy dilaporkan melepas sekitar 170 dari total 250 karyawannya menyusul performa buruk game perdana mereka, MindsEye. Gelombang pemangkasan besar-besaran ini menyisakan hanya 80 staf dan menandai jatuhnya ambisi besar Leslie Benzies, mantan petinggi Rockstar Games.
Kabar mengenai pengurangan staf di Build A Rocket Boy mulai mencuat setelah sejumlah mantan karyawan membagikan status pencarian kerja melalui LinkedIn dan Discord. Laporan dari Kotaku menyebutkan bahwa angka pasti pemecatan ini mencapai kisaran 170 orang. Jika angka tersebut akurat, maka studio ini telah kehilangan hampir 70 persen dari total tenaga kerjanya dalam satu waktu.
Dampak Masif Terhadap Struktur Tim Pengembang
Sebelum gelombang pemecatan ini terjadi, Build A Rocket Boy tercatat memiliki sekitar 250 staf yang bekerja untuk berbagai proyek, dengan fokus utama pada pengembangan MindsEye. Pemangkasan ini menyisakan sekitar 80 orang saja di dalam perusahaan. Pengurangan dalam skala sebesar ini biasanya mengindikasikan adanya restrukturisasi drastis atau kegagalan finansial yang signifikan pada proyek utama.
Hingga saat ini, manajemen belum memberikan pernyataan resmi mengenai rincian pesangon atau masa depan para staf yang terdampak. Namun, banyaknya unggahan di media sosial profesional mengonfirmasi bahwa departemen yang terkena dampak cukup luas. Fenomena ini menambah daftar panjang efisiensi tenaga kerja di industri game global yang terus berlanjut hingga tahun 2025.
Ambisi Besar yang Berujung Ulasan Buruk
Build A Rocket Boy didirikan pada tahun 2016 oleh Leslie Benzies, sosok yang dikenal sebagai produser eksekutif di balik kesuksesan waralaba Grand Theft Auto. Pengalaman panjang Benzies di Rockstar Games sempat membuat MindsEye mendapatkan sorotan besar dan ekspektasi tinggi dari komunitas pemain sebelum peluncurannya tahun lalu. Banyak yang berharap game ini mampu menjadi pesaing serius di genre aksi-petualangan.
Realita di lapangan justru berkata sebaliknya. MindsEye tercatat sebagai salah satu game dengan ulasan terburuk sepanjang tahun 2025. Penerimaan pasar yang dingin dan berbagai masalah teknis saat peluncuran menjadi pemicu utama yang memaksa studio melakukan evaluasi besar-besaran. Kegagalan produk ini secara langsung memukul stabilitas finansial studio yang baru merintis portofolionya tersebut.
Tudingan Sabotase dan Spionase Korporat
Di tengah situasi krisis ini, Co-CEO Build A Rocket Boy, Mark Gerhard, mengeluarkan pernyataan yang cukup kontroversial. Gerhard menyatakan keyakinannya bahwa ada upaya terencana untuk menjatuhkan kredibilitas game mereka. Ia mengeklaim bahwa kegagalan MindsEye bukan semata-mata karena kualitas produk, melainkan akibat kampanye negatif yang masif.
Selain tudingan sabotase opini publik, Gerhard juga menyinggung adanya praktik spionase korporat yang dianggap merugikan pengembangan game tersebut. Meskipun klaim ini terdengar tidak biasa di industri game, manajemen tetap bersikeras bahwa faktor eksternal berperan besar dalam buruknya ulasan yang diterima MindsEye. Belum ada bukti konkret yang dipublikasikan untuk mendukung pernyataan mengenai spionase tersebut.