KALIMANTAN SELATAN — Inchcape Great Wall Motor Indonesia merilis Wey G9 Hi4 sebagai MPV mewah tujuh penuh dengan konsep yang tidak biasa: tiga baris kursi diperlakukan setara kelas bisnis. Bukan cuma baris kedua yang jadi primadona. Klaim kabin sesenyap perpustakaan dan sistem audio 21 speaker jadi jualan utama, tapi mari kita bedah apa yang benar-benar ditawarkan dan apa yang perlu dicermati sebelum Anda mengeluarkan Rp 1 miliar lebih.
GWM menyediakan dua varian dengan basis bodi dan dimensi identik. Keduanya memakai teknologi Hi4 (Hybrid Intelligent 4WD) yang memadukan tenaga listrik dan bensin secara otomatis, lalu mengatur distribusi tenaga ke roda sesuai kondisi jalan.
Varian HEV mengandalkan baterai 1,67 kWh dengan tenaga sistem maksimum 263 kW dan torsi 782 Nm. Konsumsi bahan bakar rata-rata sekitar 15 km/liter. Varian PHEV lebih agresif: tenaga maksimum 325 kW, torsi 642 Nm, dan bisa melaju sepenuhnya dengan tenaga listrik hingga 170 km tanpa setetes bensin.
Menurut Bagus Susanto, CEO Inchcape GWM Indonesia, dua pilihan ini disiapkan agar konsumen bisa menyesuaikan dengan kebutuhan perjalanan. "Keduanya menawarkan standar kemewahan dan kenyamanan yang sama, dengan karakter powertrain yang berbeda," katanya dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat (11/9/2026).
Klaim efisiensi PHEV tercatat hingga 83,33 km/liter, sementara jangkauan totalnya diklaim melebihi 1.000 km dalam sekali perjalanan penuh. Angka ini berdasarkan pengujian standar NEDC.
Perlu digarisbawahi: NEDC adalah siklus pengujian laboratorium yang cenderung optimistis dibanding kondisi jalan Indonesia. Konsumsi bahan bakar aktual sangat bergantung pada gaya berkendara, kondisi jalan, dan seberapa rajin Anda mengisi daya. Untuk PHEV, angka irit hanya tercapai kalau baterai rutin diisi dan perjalanan harian di bawah 170 km.
Kalau baterai dibiarkan kosong, beban mesin bensin plus bobot baterai bisa membuat konsumsi BBM jatuh jauh dari klaim. Ini pola umum PHEV, bukan kelemahan khusus G9 Hi4, tapi penting dipahami sebelum membeli.
Kursi baris kedua jadi andalan dengan model floating zero-gravity berbalut kulit NAPPA, dilengkapi fitur pijat dan ventilasi udara. Posisinya mirip kursi kelas eksekutif pesawat. Hiburan kabin didukung layar kontrol utama 14,6 inci dan sistem audio 21 speaker.
Ada meja lipat di sandaran kursi untuk kerja atau makan saat perjalanan. Khusus varian PHEV, tersedia tambahan box pendingin sekaligus penghangat. Detail-detail ini menunjukkan GWM menyasar pengguna yang sering membawa penumpang belakang untuk perjalanan jauh.
Selisih harga hampir Rp 370 juta jadi daya tarik utama. Tapi perlu diingat, Alphard punya reputasi panjang, jaringan servis luas, dan nilai jual kembali yang sudah terbukti di Indonesia. GWM masih membangun kepercayaan di segmen ini.
GWM Wey G9 Hi4 PHEV masuk akal buat Anda yang punya garasi dengan charger rumah, rutin berkendara dalam kota di bawah 170 km, dan ingin kemewahan kabin tanpa membayar harga Alphard. Fitur kursi pijat dan box pendingin jadi nilai tambah nyata untuk perjalanan jauh bersama keluarga.
Kurang cocok kalau Anda mengutamakan jaringan servis luas, nilai jual kembali terjamin, atau sering perjalanan luar kota tanpa akses pengisian daya. Untuk kelompok ini, Alphard atau MPV Jepang lain masih pilihan lebih aman. G9 Hi4 menang di harga dan fitur, tapi belum terbukti di durabilitas jangka panjang dan ekosistem purna jual.