Sanksi dan Blokade AS Kian Menyesaki Ekonomi Iran, Daya Tawar Selat Hormuz Melorot

Penulis: Vicky Prasetya  •  Senin, 07 September 2026 | 08:37:01 WIB
Analis Iran Arash Azizi menilai daya tawar Iran atas Selat Hormuz melemah akibat sanksi dan blokade AS yang kian efektif.

KALIMANTAN SELATAN — Ketergantungan pada jalur minyak global yang selama ini menjadi senjata negosiasi utama Iran perlahan kehilangan efektivitasnya. Analis Iran Arash Azizi menilai keseimbangan kekuatan telah bergeser melawan Teheran, yang kini tidak mampu sepenuhnya menutup Selat Hormuz sebagai alat tekan ekonomi.

"Keseimbangan kekuatan sedikit bergeser melawan Iran. Iran kehilangan sebagian daya tawarnya atas Selat Hormuz karena tidak mampu menutup jalur tersebut sepenuhnya," kata Azizi dikutip dari Reuters, Senin (7/9/2026).

Mengapa Blokade Laut AS Kini Lebih Efektif?

Blokade yang dijalankan Angkatan Laut AS bersama negara kawasan berhasil membatasi pergerakan kapal-kapal Iran dan mengurangi volume ekspor minyak secara signifikan. Kebijakan terbaru Washington juga memutus akses Teheran terhadap jaringan pembayaran internasional dan impor barang kebutuhan pokok.

Tiga sumber senior Iran mengakui kampanye ekonomi Washington semakin sulit ditahan. Pembatasan akses valuta asing membuat nilai mata uang rial terus tertekan, sementara kenaikan harga barang dan melemahnya daya beli rumah tangga meningkatkan risiko munculnya kembali protes sosial seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

Pasar Energi Beradaptasi, Guncangan Global Tak Terjadi

Perhitungan awal Iran bahwa gangguan di Selat Hormuz akan memicu lonjakan harga minyak dunia dan memaksa Washington kembali ke meja perundingan ternyata meleset. Pasar energi global dinilai telah beradaptasi dengan cepat, dan pasokan alternatif dari negara produsen lain tetap mengalir deras.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Namun, kemampuan Iran untuk menciptakan guncangan ekonomi global melalui jalur ini kini dinilai terbatas karena kapasitas militer AS yang superior dan koordinasi keamanan maritim yang semakin solid.

Jalan Buntu Negosiasi dan Tuntutan Iran

Meski tekanan ekonomi meningkat, sejumlah sumber regional menilai belum ada kepastian bahwa Teheran akan segera memberikan konsesi. Iran masih bersikukuh menuntut keringanan sanksi, pencairan aset yang dibekukan, serta pengakuan atas peran keamanannya di kawasan Teluk.

Pembicaraan mengenai formula baru untuk mengakhiri kebuntuan disebut mulai dibahas melalui mediator. Namun, jarak antara tuntutan Iran dan posisi Amerika Serikat yang menginginkan penghentian total program nuklir serta pengaruh regional Teheran masih menjadi hambatan utama.

Azizi menambahkan bahwa meskipun Iran kehilangan sebagian daya tawarnya, tekanan ekonomi yang berkepanjangan justru bisa memicu perilaku lebih agresif di kawasan. "Ini skenario berisiko tinggi. Ketika ekonomi di sudutkan, respons yang muncul tidak selalu rasional," ujarnya.

Bagi pasar global, eskalasi di Selat Hormuz tetap menjadi risiko yang diawasi ketat. Setiap gangguan pada jalur pelayaran tersebut berpotensi mengerek harga minyak dan memicu volatilitas di pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia yang masih menjadi net importir minyak mentah.

Reporter: Vicky Prasetya
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top