KOTABARU — Semangat menjaga warisan leluhur Suku Bajau Samah di Kabupaten Kotabaru tak luntur meski arus modernisasi dan digitalisasi kian deras. Hal itu dibuktikan lewat eksistensi atraksi Batiti Tali, seni meniti tali yang hingga kini masih rutin memukau pengunjung di kawasan wisata Siringlaut.
Uniknya, aksi ekstrem yang sarat nilai seni ini justru diperagakan oleh empat orang remaja yang rata-rata masih duduk di bangku SMP. Mereka tampil dengan diiringi alunan nada khas dari enam orang pemain musik tradisional.
Bagi para seniman budaya tersebut, beraksi di atas seutas tali bukan sekadar mencari tepuk tangan penonton. Aktivitas ini merupakan wujud nyata mempertahankan identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
“Kami menjaga budaya ini karena turun temurun dari nenek moyang kami, agar tidak hilang dimakan zaman,” ungkap salah seorang pemain atraksi saat ditemui di Siringlaut, Minggu (23/8/26) pagi.
Keberlangsungan seni kebanggaan Suku Bajau Samah ini tidak lepas dari campur tangan pemerintah daerah. Sebagai kelompok binaan, Disparpora Kabupaten Kotabaru memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana penunjang, termasuk kelengkapan alat musik tradisional.
“Setiap ada event besar seperti Festival Budaya Saijaan kami selalu diundang untuk tampil. Alat musik dan perlengkapan kami juga ditunjang penuh oleh Disparpora,” tambahnya.
Kolaborasi antara pelestari budaya dan dukungan pemerintah ini membuat atraksi Batiti Tali tak hanya bertahan, tetapi juga menjelma menjadi daya tarik pariwisata unggulan di Kotabaru. Wisatawan dan masyarakat sekitar yang penasaran dapat menyaksikan aksi memukau para seniman muda ini setiap akhir pekan.
Atraksi rutin Batiti Tali digelar di kawasan Siringlaut mulai pukul 06.00 hingga 08.00 pagi. Waktu tersebut dinilai pas untuk menemani aktivitas olahraga pagi sambil menikmati kekayaan budaya Nusantara.