KALIMANTAN SELATAN — Mitsubishi akhirnya menghadirkan varian hybrid untuk Xforce, sebuah langkah yang sudah lama dinantikan di segmen SUV kompak Tanah Air. Lewat acara media test drive di Karawang, kami mendapat kesempatan hands-on untuk merasakan langsung seperti apa pengalaman berkendara New Xforce HEV dan bagaimana fitur-fitur baru yang dibawa. Perlu dicatat, ini adalah kesan awal berdasarkan rute terbatas, bukan review jangka panjang.
Perbedaan paling signifikan antara Xforce HEV dengan versi bensin murni ada di karakter berkendaranya. Saat melaju pelan di rute perkotaan dari kantor MMKSI menuju Grand Outlet Karawang, motor listrik bekerja sendirian. Hasilnya? Kabin terasa sangat senyap, tanpa getaran mesin bensin sama sekali. Transisinya pun mulus saat mesin bensin mulai hidup untuk mengisi baterai atau membantu akselerasi.
Mitsubishi mengklaim suspensi sudah disempurnakan. Di jalan tol mulus, rasanya empuk dan nyaman. Namun, di beberapa jalan rusak atau polisi tidur, kami masih merasakan guncangan yang cukup terasa di kursi belakang — bukan yang paling empuk di kelasnya. Pilihan drive mode pada HEV memberikan fleksibilitas, tapi untuk urusan akselerasi, jangan harap sensasi sporty. Tenaganya cukup untuk harian, tapi terasa kurang greget saat butuh injakan mendadak untuk menyalip.
Salah satu highlight sesi hari kedua adalah Baggage Challenge. Mitsubishi mengklaim bagasi New Xforce sangat luas, dan dari percobaan singkat, klaim itu terbukti. Dimensinya cukup muat untuk koper besar dan beberapa tas belanjaan, ditambah fitur Electric Tailgate yang memudahkan buka-tutup saat tangan penuh bawaan.
Fitur lain yang patut diacungi jempol adalah Multi Around Monitor (MAM) with Moving Object Detection (MOD). Dalam Narrow Road Challenge dan Parking Challenge, sistem ini memberikan pandangan 360 derajat yang jernih. Kamera mendeteksi objek bergerak di sekitar mobil — sangat membantu saat parkir di area padat atau jalan sempit. Radius putar yang ringkas juga membuat manuver di perkotaan terasa lincah, tidak seperti SUV pada umumnya.
Setelah menjajal langsung, ada beberapa catatan yang perlu kamu timbang. Pertama, harga. Varian HEV jelas lebih mahal dari Xforce bensin biasa. Selisihnya bisa mencapai puluhan juta rupiah — kamu harus hitung sendiri apakah penghematan BBM di perkotaan bisa menutup selisih harga itu dalam jangka waktu pemakaianmu.
Kedua, infrastruktur pengisian daya bukan masalah besar karena ini hybrid konvensional (isi bensin seperti biasa). Tapi, regenerasi energi dari pengereman terasa halus — tidak ada efek engine braking yang kuat seperti beberapa kompetitor. Buat yang terbiasa dengan mobil konvensional, ini mungkin butuh adaptasi.
Mitsubishi New Xforce HEV jelas bukan mobil performa. Ini adalah kendaraan harian yang dirancang untuk kenyamanan dan efisiensi, terutama di kemacetan kota. Target pasarnya adalah keluarga muda yang tinggal di perkotaan, sering macet, dan ingin pengalaman berkendara yang tenang tanpa ribet urusan plug-in charger.
Namun, jika kamu sering bepergian jarak jauh di tol atau butuh akselerasi responsif untuk menyalip, varian bensin standar mungkin pilihan yang lebih masuk akal secara harga. Uji coba lebih panjang masih diperlukan untuk memvalidasi klaim konsumsi BBM real-world, tapi dari kesan awal, HEV ini adalah langkah berani Mitsubishi di segmen yang mulai panas. Keputusan akhir ada di dompet dan kebutuhanmu.