IPO SpaceX Resmi, Saham Melonjak 19% di Hari Pertama dan Elon Musk Kini Jadi Triliuner

Penulis: Reza Maulana  •  Minggu, 14 Juni 2026 | 03:45:01 WIB
Saham SpaceX melonjak 19% pada hari pertama perdagangan di Nasdaq.

KALIMANTAN SELATAN — SpaceX resmi menjadi perusahaan publik setelah penawaran umum perdana (IPO) mereka di Nasdaq pada Jumat lalu. Perusahaan yang didirikan Elon Musk pada 2002 ini melepas 555,6 juta lembar saham dengan harga Rp 2,1 juta per saham, mengumpulkan dana segar sekitar Rp 1.237 triliun. Angka ini memecahkan rekor sebagai IPO terbesar yang pernah ada, melampaui debut Alibaba dan Saudi Aramco.

Saham Melonjak, Volume Perdagangan Pecah Rekor

Begitu perdagangan dibuka, saham SpaceX langsung melesat 11% ke Rp 2,47 juta. Momentum kenaikan berlanjut hingga sesi tengah hari dengan lonjakan 30%, sebelum akhirnya ditutup di Rp 2,65 juta—naik 19% dari harga perdana. Volume transaksi tercatat sangat deras.

Platform trading Robinhood melaporkan lonjakan lalu lintas pengguna yang belum pernah terjadi sebelumnya pada jam-jam setelah debut SpaceX. Banyak investor ritel yang antusias ikut meramaikan aksi beli saham perusahaan antariksa ini.

Ribuan Karyawan Jadi Jutawan, Bank Kebagian Fee Raksasa

Salah satu dampak paling menarik dari IPO ini adalah nasib para karyawan SpaceX. Menurut laporan New York Times, sekitar 4.400 pegawai berpotensi menjadi jutawan berkat kepemilikan saham yang mereka miliki. Jumlah ini menunjukkan betapa besarnya distribusi kekayaan yang terjadi di internal perusahaan.

Di sisi lain, para bankir investasi juga tersenyum lebar. Total fee yang diterima konsorsium penjamin emisi mencapai sekitar Rp 8,25 triliun. Goldman Sachs dan Morgan Stanley menjadi dua bankir yang paling diuntungkan, berdasarkan laporan Wall Street Journal.

Kekuasaan Elon Musk Makin Moncer

Kendati sudah go public, kendali SpaceX tetap berada di genggaman Elon Musk. Sebagai CEO, ia memegang sekitar 85,1% hak suara perusahaan. Ini artinya, kekuasaan Musk atas SpaceX jauh melampaui kontrol yang dimiliki pendiri perusahaan teknologi publik lainnya.

Kekayaan pribadi Musk pun ikut melambung. Dengan valuasi perusahaan yang mencapai Rp 2.887 triliun pasca-IPO, ia resmi menjadi manusia pertama di dunia yang memiliki kekayaan kertas (paper wealth) di atas Rp 16.500 triliun atau 1 triliun dolar AS. Pencapaian ini terjadi di tengah kontroversi dan polarisasi yang mengelilingi figur Musk.

Ada Apa dengan Saham "Sepatu Hijau"?

Menariknya, dalam unggahan di platform X, Musk memposting foto para karyawan yang kompak mengenakan sepatu hijau. Ini bukan sekadar gaya, melainkan isyarat terkait mekanisme "green shoe option" dalam IPO. Opsi ini memungkinkan penjamin emisi menjual hingga 15% lebih banyak saham dari jumlah awal jika permintaan pasar sangat kuat.

Merger SpaceX dan Tesla? COO Beri Sinyal

Dalam wawancara dengan CNBC, Chief Operating Officer SpaceX Gwynne Shotwell melontarkan pernyataan yang bisa membuat pemegang saham Tesla bergerak. Ia mengatakan bahwa "merger antara SpaceX dan Tesla mungkin akan membuat hidup Elon sedikit lebih mudah." Pernyataan ini memicu spekulasi tentang kemungkinan integrasi dua perusahaan raksasa milik Musk di masa depan.

Kinerja Keuangan: Untung Besar, Tapi Masih Boncos

Meski sukses di bursa, dokumen S-1 yang diajukan SpaceX ke regulator menunjukkan kondisi keuangan yang kontras. Perusahaan mencatat pendapatan lebih dari Rp 297 triliun pada 2025, namun masih membukukan kerugian bersih Rp 80,85 triliun. Secara akumulasi, SpaceX telah kehilangan lebih dari Rp 610 triliun sejak awal berdiri. Angka ini wajar mengingat bisnis eksplorasi antariksa membutuhkan investasi modal yang sangat besar.

IPO SpaceX bukan sekadar aksi korporasi biasa. Ini adalah tonggak yang mengubah peta industri antariksa global dan menciptakan gelombang baru investor ritel yang ingin ikut serta dalam misi manusia ke Mars. Bagi pembaca di Indonesia, fenomena ini menarik diamati karena menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi paling ambisius di dunia akhirnya membuka pintu bagi publik untuk ikut memiliki sahamnya.

Reporter: Reza Maulana
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top