KALIMANTAN SELATAN — Ambisi BYD untuk menjadi nomor satu bukan sekadar wacana. Wang Chuanfu menyebut target penjualan 1,6 juta kendaraan di luar China pada tahun ini diprediksi bakal terlampaui, mengacu pada tren pertumbuhan saat ini. Pada 2025, BYD mencatatkan penjualan global 4,6 juta unit—cukup untuk menempati posisi enam dunia, tepat di bawah Stellantis dan di atas Ford.
“Begitu regulasi diterapkan, BYD akan segera melesat,” tegas Wang dalam pidatonya, merujuk pada kesiapan penuh perusahaan di bidang chip, algoritma, dan ekosistem data untuk teknologi mengemudi otonom L3 dan L4. Ia memperkirakan teknologi tersebut akan hadir di pasar lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.
Wang menekankan strategi lokalisasi sebagai fondasi pertumbuhan berkelanjutan di pasar internasional. BYD telah mendirikan pusat pelatihan di Eropa, Amerika Selatan, Asia Tenggara, dan Timur Tengah untuk mendukung peluncuran teknologi anyar dan memastikan dampak saling menguntungkan di tiap wilayah.
Dukungan teknis datang dari inovasi baterai blade generasi kedua dan sistem pengisian cepat terbaru. Wang yakin kombinasi ini akan mendorong pertumbuhan baik di pasar domestik China maupun luar negeri, membawa BYD ke puncak industri otomotif global pada 2030, demikian melansir Car News China.
Data Bloomberg menunjukkan jarak yang masih lebar. Toyota Group memimpin penjualan 2025 dengan 11,2 juta unit, disusul Volkswagen 8,68 juta unit, dan Hyundai di posisi tiga dengan 7,27 juta unit. General Motors (6,18 juta), Stellantis (5,48 juta), dan BYD (4,6 juta) melengkapi enam besar.
Di bawah BYD, Ford mencatat 4,4 juta unit, Geely Group 4,12 juta unit, Honda 3,46 juta unit, dan Nissan 3,21 juta unit. Artinya, BYD harus menambah penjualan lebih dari 6,6 juta unit dalam lima tahun untuk menyalip Toyota—sebuah lompatan yang hanya mungkin terjadi jika ekspansi global dan teknologi otonom benar-benar berjalan sesuai skenario.
Wang menyebut kesiapan BYD di bidang chip, algoritma, dan ekosistem data sudah penuh. Namun implementasi massal teknologi L3 dan L4 masih bergantung pada regulasi di masing-masing negara. BYD telah menyiapkan pusat pelatihan di berbagai kawasan untuk menjembatani kesenjangan antara kesiapan teknis dan penerimaan pasar.
Jika target 2030 tercapai, BYD akan menjadi produsen China pertama yang memuncaki industri otomotif global—sebuah posisi yang selama puluhan tahun didominasi Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat.