Kabar ini datang langsung dari Wendell Huang, CFO TSMC, dalam wawancara dengan BBC. Ia menyebut inflasi global menjadi biang keladi yang memaksa perusahaan menaikkan tarif jasa fabrikasi cip. "Kami melakukan semua yang kami bisa," kata Huang, namun kenaikan harga sepertinya tak bisa dihindari.
TSMC memang belum meneken keputusan final. Namun bocoran dari laporan Commercial Times pada Mei lalu menyebutkan, TSMC sudah merencanakan kenaikan harga hingga 15 persen untuk produk cip 3nm pada 2026. Ini adalah generasi cip paling mutakhir yang digunakan oleh deretan perusahaan teknologi terbesar dunia.
Tekanan dari pemegang saham juga ikut memainkan peran. Pada hari yang sama sebelum wawancara BBC, Chairman dan CEO TSMC, CC Wei, secara terpisah mengatakan kepada investor bahwa ia ingin menyesuaikan harga dengan kompetitor. Sebagai perusahaan publik, TSMC punya kewajiban fidusia untuk memaksimalkan keuntungan investor, terutama di saat semua pabriknya beroperasi penuh.
TSMC menguasai sekitar 70 persen pasar foundry global. Untuk cip paling canggih, angkanya bahkan lebih tinggi. Raksasa seperti Nvidia, Qualcomm, AMD, dan Apple menggantungkan pasokan cip mereka pada TSMC. Jika harga naik, perusahaan-perusahaan ini punya dua pilihan: menyerap sendiri kenaikan biaya atau melemparkannya ke konsumen.
"Saya tidak mau membuat asumsi, tapi Anda bisa menebak mana yang lebih menarik bagi pemegang saham," tulis Cale Hunt dari Windows Central. Pilihan kedua—membebankan kenaikan ke konsumen—kemungkinan besar yang akan terjadi.
Efeknya tidak akan berhenti di sektor AI atau GPU kelas atas. Segala sesuatu yang memiliki cip di dalamnya—ponsel, PC, mobil, hingga perangkat rumah tangga—berpotensi naik harga. Sebagai gambaran, platform RTX Spark terbaru Nvidia yang diumumkan di Computex 2026 dan akan hadir di Surface Laptop Ultra, diproduksi di atas node 3nm milik TSMC.
Huang sendiri menepis kekhawatiran bahwa revolusi AI adalah gelembung. "Perusahaan-perusahaan [AI] ini secara finansial sangat kuat dengan banyak sumber daya," katanya. Artinya, mereka mampu terus berinvestasi, dan konsumen yang pada akhirnya akan menanggung biaya tambahan tersebut.
Kabar ini menjadi pukulan lain bagi keterjangkauan harga perangkat teknologi. Cale Hunt menyebut langkah ini sebagai "langkah lain menuju akhir dari PC pribadi," sebuah teori konspirasi yang dulu dianggap mustahil, kini mulai terlihat nyata. Bagi konsumen Indonesia, kenaikan harga cip ini bisa berarti menunggu lebih lama untuk upgrade laptop atau membayar lebih mahal untuk ponsel flagship baru.