Anggota Komisi XII DPR Peringatkan Risiko Daya Beli Masyarakat Akibat Kenaikan Harga Pertamax

Penulis: Sofyan Basri  •  Rabu, 10 Juni 2026 | 20:37:01 WIB
Anggota Komisi XII DPR menyoroti dampak kenaikan harga Pertamax terhadap daya beli masyarakat menengah.

KALIMANTAN SELATAN — Kenaikan harga BBM non-subsidi, khususnya Pertamax, mulai diberlakukan pemerintah hari ini. Anggota Komisi XII DPR RI, Shanty Alda Nathalia, menyoroti dampak kebijakan ini terhadap daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah yang selama ini tidak menerima manfaat penuh dari BBM bersubsidi.

Menurut Shanty, mayoritas pengguna Pertamax adalah masyarakat menengah. Kelompok ini, katanya, belum sepenuhnya mendapat akses BBM bersubsidi sehingga tambahan biaya transportasi langsung membebani pengeluaran rumah tangga.

Potensi Tekanan pada Konsumsi Rumah Tangga

Shanty menyebutkan bahwa dalam situasi daya beli yang masih rapuh, kenaikan biaya mobilitas berpotensi mengganggu konsumsi rumah tangga. Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional.

“Kenaikan harga Pertamax perlu mendapat perhatian karena mayoritas penggunanya berasal dari kelompok masyarakat menengah yang selama ini belum sepenuhnya menerima manfaat BBM subsidi,” ujar Shanty dalam keterangan persnya, hari ini.

Ia menambahkan, tambahan beban biaya transportasi dapat memengaruhi kemampuan konsumsi rumah tangga. Hal ini, lanjutnya, berpotensi memperlambat momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah Diminta Kendalikan Inflasi dan Distribusi Barang

Shanty mendorong pemerintah untuk memastikan kenaikan harga BBM non-subsidi tidak meluas ke sektor ekonomi lain. Menurutnya, pengendalian inflasi dan stabilitas harga kebutuhan pokok harus menjadi prioritas.

“Kami mendorong pemerintah untuk memastikan kenaikan harga BBM non-subsidi tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih luas terhadap perekonomian masyarakat,” kata Shanty.

Ia juga menekankan pentingnya kelancaran distribusi barang dan jasa. Tanpa pengawasan ketat, kenaikan biaya energi bisa memicu lonjakan harga di tingkat konsumen.

Mekanisme Pasar vs. Kebutuhan Stabilitas Ekonomi

Shanty mengakui bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi merupakan bagian dari mekanisme pasar yang dipengaruhi dinamika harga energi global. Namun, ia mengingatkan agar gejolak harga internasional tidak terus-menerus membebani masyarakat.

“Pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret untuk memperoleh pasokan energi yang lebih kompetitif dan efisien,” tegasnya.

Upaya tersebut, menurut Shanty, penting agar kenaikan harga energi global tidak terus berdampak pada harga BBM dalam negeri. Tanpa langkah strategis, risiko tekanan terhadap daya beli masyarakat akan semakin besar.

Reporter: Sofyan Basri
Back to top