PARINGIN — Kearifan lokal masyarakat adat Dayak Meratus di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, kini tidak lagi sekadar warisan turun-temurun. Tim peneliti dari BRIN dan BPBD setempat mulai membedah potensi pamali ekologi—petuah leluhur yang mengatur interaksi manusia dengan alam—untuk dijadikan data resmi dalam sistem peringatan dini dan mitigasi bencana.
Riset ini merupakan bagian dari program RIIM Ekspedisi yang menyasar kawasan Pegunungan Meratus. Kawasan ini dinilai krusial karena menjadi penyangga utama ekosistem Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
Pamali dalam tradisi Dayak Meratus bukan sekadar mitos. Peneliti BRIN menemukan bahwa larangan menebang pohon di dekat mata air, atau pantangan membuka lahan di lereng curam, memiliki korelasi ilmiah dengan pencegahan longsor dan banjir.
“Ada larangan menebang pohon di hulu sungai. Kalau dilanggar, diyakini akan terjadi bencana. Secara ilmu, itu benar—pohon di hulu berfungsi menahan air dan tanah,” kata salah satu peneliti dalam paparannya.
BPBD Balangan mengaku selama ini kesulitan memetakan titik rawan bencana di kawasan Meratus karena akses medan yang sulit dan kurangnya data hidrologi. Data pamali yang dihimpun dari para tetua adat diharapkan bisa menjadi indikator awal potensi bencana.
“Kami menggabungkan data ilmiah dari BRIN dengan kearifan lokal. Misalnya, jika ada pamali yang melarang aktivitas di suatu titik, kami akan survei langsung. Seringkali benar, itu adalah zona rawan,” ujar Kepala BPBD Balangan.
Pegunungan Meratus tidak hanya penting bagi warga Balangan. Ekosistem hutan di sana berfungsi sebagai paru-paru dan pengatur tata air yang berdampak langsung ke wilayah IKN. Data mitigasi yang akurat dari Meratus menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan lingkungan di ibu kota baru.
BRIN mendorong agar hasil riset ini tidak berhenti di jurnal akademik. Target jangka panjangnya adalah mengintegrasikan aturan adat ke dalam peraturan desa (perdes) tentang perlindungan lingkungan. Dengan begitu, pamali punya kekuatan hukum, bukan sekadar sanksi sosial.
RIIM (Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju) Ekspedisi adalah program penelitian BRIN yang fokus pada eksplorasi potensi daerah, termasuk kearifan lokal, untuk pembangunan berkelanjutan.
Tidak. Pamali menjadi data pelengkap atau indikator awal. Tim BRIN tetap melakukan verifikasi lapangan dan penelitian ilmiah untuk memastikan kebenaran ilmah di balik setiap pantangan adat.
Proses riset masih berlangsung. BPBD Balangan menargetkan peta risiko bencana berbasis kearifan lokal bisa mulai digunakan pada awal tahun anggaran mendatang setelah melalui validasi akhir.