BRIN dan BPBD Balangan Bedah Potensi Pamali Ekologi Meratus, Petuah Leluhur Jadi Data Mitigasi Bencana

Penulis: Udin Syamsul  •  Jumat, 05 Juni 2026 | 18:45:35 WIB
Tim BRIN dan BPBD Balangan mengkaji pamali ekologi sebagai data mitigasi bencana di Pegunungan Meratus.

PARINGIN — Kearifan lokal masyarakat adat Dayak Meratus di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, kini tidak lagi sekadar warisan turun-temurun. Tim peneliti dari BRIN dan BPBD setempat mulai membedah potensi pamali ekologi—petuah leluhur yang mengatur interaksi manusia dengan alam—untuk dijadikan data resmi dalam sistem peringatan dini dan mitigasi bencana.

Riset ini merupakan bagian dari program RIIM Ekspedisi yang menyasar kawasan Pegunungan Meratus. Kawasan ini dinilai krusial karena menjadi penyangga utama ekosistem Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.

Apa Itu Pamali Ekologi dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Pamali dalam tradisi Dayak Meratus bukan sekadar mitos. Peneliti BRIN menemukan bahwa larangan menebang pohon di dekat mata air, atau pantangan membuka lahan di lereng curam, memiliki korelasi ilmiah dengan pencegahan longsor dan banjir.

“Ada larangan menebang pohon di hulu sungai. Kalau dilanggar, diyakini akan terjadi bencana. Secara ilmu, itu benar—pohon di hulu berfungsi menahan air dan tanah,” kata salah satu peneliti dalam paparannya.

Data Kearifan Lokal untuk Peta Risiko Bencana

BPBD Balangan mengaku selama ini kesulitan memetakan titik rawan bencana di kawasan Meratus karena akses medan yang sulit dan kurangnya data hidrologi. Data pamali yang dihimpun dari para tetua adat diharapkan bisa menjadi indikator awal potensi bencana.

“Kami menggabungkan data ilmiah dari BRIN dengan kearifan lokal. Misalnya, jika ada pamali yang melarang aktivitas di suatu titik, kami akan survei langsung. Seringkali benar, itu adalah zona rawan,” ujar Kepala BPBD Balangan.

Meratus sebagai Penyangga IKN

Pegunungan Meratus tidak hanya penting bagi warga Balangan. Ekosistem hutan di sana berfungsi sebagai paru-paru dan pengatur tata air yang berdampak langsung ke wilayah IKN. Data mitigasi yang akurat dari Meratus menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan lingkungan di ibu kota baru.

Apakah Pamali Bisa Diadopsi dalam Regulasi Desa?

BRIN mendorong agar hasil riset ini tidak berhenti di jurnal akademik. Target jangka panjangnya adalah mengintegrasikan aturan adat ke dalam peraturan desa (perdes) tentang perlindungan lingkungan. Dengan begitu, pamali punya kekuatan hukum, bukan sekadar sanksi sosial.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Dicari Warga

Apa itu RIIM Ekspedisi dari BRIN?

RIIM (Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju) Ekspedisi adalah program penelitian BRIN yang fokus pada eksplorasi potensi daerah, termasuk kearifan lokal, untuk pembangunan berkelanjutan.

Apakah pamali bisa menggantikan data ilmiah?

Tidak. Pamali menjadi data pelengkap atau indikator awal. Tim BRIN tetap melakukan verifikasi lapangan dan penelitian ilmiah untuk memastikan kebenaran ilmah di balik setiap pantangan adat.

Kapan hasil riset ini akan diterapkan di Balangan?

Proses riset masih berlangsung. BPBD Balangan menargetkan peta risiko bencana berbasis kearifan lokal bisa mulai digunakan pada awal tahun anggaran mendatang setelah melalui validasi akhir.

Reporter: Udin Syamsul
Sumber: radarbanjarmasin.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top