BANJARMASIN — Tekanan terhadap daya beli warga Kalimantan Selatan kian terasa dalam beberapa pekan terakhir. Lonjakan harga sejumlah kebutuhan pokok membuat masyarakat kelas menengah ke bawah harus mengatur ulang pengeluaran harian. Namun, di tengah situasi tersebut, sektor perkebunan justru menjadi titik terang yang menopang perekonomian daerah.
Kenaikan harga bahan pokok menjadi penyebab utama. Data di sejumlah pasar tradisional di Banjarmasin dan sekitarnya menunjukkan harga beras, minyak goreng, dan cabai masih bertahan di level tinggi. Hal ini memaksa warga, terutama yang menggantungkan hidup pada sektor informal, untuk mengurangi konsumsi barang non-esensial.
Seorang pedagang di Pasar Sudimampir, Banjarmasin, mengungkapkan omzetnya turun hingga 20 persen dalam dua bulan terakhir. "Pembeli lebih selektif, belanjanya sedikit-sedikit. Dulu bisa beli minyak lima liter, sekarang cuma dua liter," ujarnya.
Berbeda dengan sektor konsumsi rumah tangga, sektor perkebunan di Kalimantan Selatan justru mencatatkan kinerja positif. Komoditas utama seperti kelapa sawit dan karet mengalami kenaikan harga di tingkat petani. Kondisi ini mendorong aktivitas ekonomi di daerah sentra produksi seperti Kabupaten Tanah Laut dan Kotabaru.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, Suparmi, menyebutkan bahwa harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit naik sekitar 15 persen dalam sebulan terakhir. "Ini angin segar bagi petani sawit yang sempat terpuruk beberapa tahun lalu. Hasil perkebunan kini menjadi penyangga utama ekonomi di pedesaan," katanya.
Kondisi kontras ini paling dirasakan oleh buruh tani dan pekerja harian di sektor non-perkebunan. Mereka yang tidak memiliki akses langsung ke komoditas perkebunan harus menanggung beban kenaikan harga pangan tanpa diimbangi kenaikan pendapatan. Sementara itu, petani pemilik lahan sawit dan karet justru menikmati peningkatan pendapatan.
Di Desa Sungai Danau, Kabupaten Tanah Bumbu, seorang petani karet mengaku hasil getahnya kini lebih laku. "Harga karet naik jadi Rp 12.000 per kilogram. Lumayan untuk nutrisi anak sekolah," ujarnya. Namun, ia juga mengeluhkan harga pupuk yang masih mahal, menggerus sebagian keuntungan yang didapat.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus berupaya menjaga stabilitas harga pangan melalui operasi pasar dan sidak ke distributor. Di sisi lain, mereka juga mendorong hilirisasi produk perkebunan agar nilai tambahnya bisa dinikmati langsung oleh petani. Program-program seperti bantuan benih dan pupuk bersubsidi juga terus digulirkan untuk menjaga produktivitas.
Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor, dalam beberapa kesempatan menekankan pentingnya keseimbangan antara sektor perkebunan dan kebutuhan pokok warga. "Kita harus memastikan bahwa pertumbuhan di sektor perkebunan juga berdampak pada kesejahteraan masyarakat luas, bukan hanya segelintir orang," tegasnya.
Para pengamat ekonomi daerah memperkirakan bahwa tren kenaikan harga komoditas perkebunan masih akan bertahan hingga akhir tahun, didorong oleh permintaan global. Namun, tekanan daya beli warga diperkirakan baru akan mereda jika pemerintah berhasil mengendalikan inflasi pangan secara konsisten. Kuncinya ada pada distribusi dan ketersediaan stok.