KALIMANTAN SELATAN — Pada usia 34 tahun, Neymar kembali dipanggil membela tim nasional Brasil. Namun, di balik pengumuman Ancelotti itu, tersimpan narasi yang lebih kompleks: Brasil masih terjebak dalam budaya ketergantungan pada satu bintang. Sejak debutnya pada 2010, Neymar selalu dibebani misi mustahil menjadi "Messi-nya Brasil". Beban yang perlahan menggerogoti kariernya.
Ketika Neymar melakoni debut di tim senior pada 2010, Brasil sedang dalam fase regenerasi setelah kegagalan Piala Dunia Afrika Selatan. Saat itu, Messi berusia 23 tahun dan sudah menjadi bintang. Publik Brasil pun mendambakan figur serupa. Neymar yang baru berusia 18 tahun dipaksa mengisi peran itu.
Namun, jalan Neymar tidak pernah mulus. Sejak Copa América 2011, ia mulai menjadi sasaran empuk bek lawan. Pemain seperti Roberto Rosales dari Venezuela dan Darío Verón dari Paraguay menunjukkan bahwa Neymar tidak tahan dengan tekanan fisik. Akibatnya, ia mulai sering jatuh, melebih-lebihkan kontak, dan diving. Siklus ini menciptakan "perlombaan senjata" paling menjengkelkan di sepak bola 2010-an.
Puncaknya terjadi di Piala Dunia 2014. Brasil memang menang atas Kolombia di perempat final, tapi Neymar mengalami patah tulang belakang akibat tekel Juan Camilo Zúñiga. Meski tekel itu lebih karena kelebihan semangat daripada niat jahat, Zúñiga langsung menjadi musuh publik nomor satu di Brasil.
Ketiadaan Neymar di semifinal melawan Jerman menciptakan histeria nasional. David Luiz mengacungkan jersey kosong Neymar saat lagu kebangsaan berkumandang. Publik Brasil panik. Hasilnya: kekalahan 1-7 yang memalukan. Sebuah negara kehilangan akal sehatnya hanya karena kehilangan satu pemain yang sebenarnya bukanlah mesias sejati.
Ancelotti memanggil Neymar di usia 34 tahun—hanya setahun lebih muda dari Messi saat membawa Argentina juara Piala Dunia 2022. Namun, analogi ini keliru. Messi menjalani "last dance" dengan peran yang matang dan tim yang solid. Sementara Neymar, sepanjang kariernya, selalu menjadi "wadah" tempat berbagai faksi menuangkan narasi mereka.
Ada ironi yang jarang dibahas dalam kisah Neymar. Ia adalah pemain potensial hebat yang tidak pernah benar-benar diizinkan menjadi dirinya sendiri. Substansinya tidak pernah sepenuhnya sepadan dengan citra yang dibangun media dan publik. Setelah kekalahan dari Belgia di perempat final Piala Dunia 2018, Neymar berdiri sendirian di parkir stadion Kazan, membungkuk di bawah beban ekspektasi. Saat itu ia baru 26 tahun, tapi seolah peluang terbaiknya untuk juara dunia sudah lewat.
Panggilan ini menunjukkan bahwa Brasil masih belum menemukan formula baru. Alih-alih membangun tim kolektif, mereka masih menggantungkan harapan pada satu nama. Jika pola yang sama terulang—Neymar menjadi pusat taktik yang membuat sayap kiri Brasil rapuh, seperti yang dieksploitasi Roberto Martínez dengan memindahkan Romelu Lukaku ke kanan pada 2018—maka sejarah bisa kembali berulang. Brasil butuh lebih dari sekadar nama besar. Mereka butuh tim yang tidak bergantung pada satu bintang.