Antropolog ULM Sebut Film Dokumenter Pesta Babi Jadi Arsip Tandingan Dominasi Narasi Humas Pemerintah dan Korporasi di Kalimantan Selatan

Penulis: Reza Maulana  •  Sabtu, 23 Mei 2026 | 12:13:14 WIB
Antropolog ULM menilai film dokumenter “Pesta Babi” sebagai arsip alternatif narasi di Kalimantan Selatan.

BANJARMASIN — Nasrullah, antropolog dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), menilai film dokumenter “Pesta Babi” bukan sekadar karya sinematik. Ia melihatnya sebagai arsip alternatif yang mampu melawan narasi tunggal yang selama ini dibangun oleh humas pemerintah dan korporasi di Kalimantan Selatan.

Mengapa Film Dokumenter Dianggap Lebih dari Sekadar Hiburan?

Menurut Nasrullah, film dokumenter memiliki kekuatan untuk merekam realitas sosial dari sudut pandang yang jarang tersentuh pemberitaan resmi. “Pesta Babi” menjadi contoh bagaimana tradisi dan kehidupan masyarakat Dayak ditampilkan tanpa filter kepentingan institusi tertentu.

“Film ini menjadi arsip tandingan terhadap dominasi narasi humas pemerintah dan korporasi yang kerap menyederhanakan realitas,” ujar Nasrullah dalam sebuah diskusi di Banjarmasin, baru-baru ini.

Apa yang Membuat Narasi Humas Pemerintah dan Korporasi Dominan?

Nasrullah menjelaskan bahwa humas pemerintah dan korporasi memiliki sumber daya besar untuk menyebarluaskan pesan mereka. Mulai dari siaran pers, konferensi pers, hingga konten media sosial yang dikelola secara profesional. Akibatnya, publik lebih sering terpapar pada versi realitas yang sudah dirancang.

“Narasi dari humas itu penting, tapi tidak boleh menjadi satu-satunya. Masyarakat butuh perspektif lain yang lebih jujur dan dekat dengan keseharian,” tambahnya.

Siapa yang Paling Diuntungkan dari Kehadiran Arsip Tandingan?

Kehadiran film dokumenter seperti “Pesta Babi” dinilai paling menguntungkan masyarakat adat dan kelompok rentan. Mereka selama ini sering menjadi objek pemberitaan, bukan subjek yang bercerita. Film ini memberi ruang bagi suara-suara yang biasanya terpinggirkan dalam arus informasi utama.

Nasrullah menekankan bahwa arsip tandingan semacam ini penting untuk menjaga keberagaman perspektif dalam ruang publik. “Jangan sampai kita hanya mendengar satu versi cerita,” tegasnya.

Bagaimana Masa Depan Film Dokumenter di Kalimantan Selatan?

Nasrullah berharap lebih banyak sineas muda di Kalimantan Selatan yang tertarik membuat film dokumenter. Ia menilai potensi cerita dari daerah ini sangat besar, mulai dari tradisi, konflik lingkungan, hingga dinamika sosial masyarakat.

“Film dokumenter bukan hanya untuk festival. Ini adalah alat untuk mendokumentasikan sejarah dan identitas kita,” pungkasnya.

Reporter: Reza Maulana
Sumber: radarbanjarmasin.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top