MARTAPURA — Berusia nyaris 112 tahun pada 2026 mendatang, Pondok Pesantren Darussalam di Martapura bukan sekadar lembaga pendidikan. Didirikan oleh K.H. Jamaluddin dengan nama awal Madrasah Islam Darussalam, pesantren ini telah melahirkan generasi ulama yang jejaknya tersebar hampir di seluruh Kalimantan Selatan.
Reputasi Ponpes Darussalam melampaui batas provinsi. Santri tidak hanya datang dari berbagai daerah di Kalimantan, tetapi juga dari luar pulau. “Hampir seluruh silsilah murid hingga guru agama di Kalsel terkait ponpes tersebut,” ujar Ahmad Zaini, tour guide dari BDJ Walking Tour, kepada Harian Disway.
Berbeda dengan pesantren di Jawa pada umumnya, Ponpes Darussalam menerapkan sistem non-mondok. Santri dan santriwati belajar setiap hari tanpa tinggal di asrama. “Setelah belajar langsung pulang ke rumah. Kalau dari luar Kalsel biasanya indekos,” tambah Zaini.
Jadwal belajar dibagi berdasarkan gender. Pukul 08.00 hingga 12.00 WITA khusus santri, sementara pukul 14.00 hingga 16.00 WITA diperuntukkan bagi santriwati. Sistem ini sudah berjalan puluhan tahun dan menjadi ciri khas tersendiri.
Kuatnya pengaruh keagamaan di Martapura bukan isapan jempol. Eksistensi pesantren ini bahkan tercatat dalam dokumen kolonial Belanda berjudul Memorie van Overgave Onderafdeeling Martapoera Door yang ditulis H.M. Holtrus. “Karena kuatnya pengaruh keagamaan dan tradisi Islam di Martapura, kota ini kerap disebut ‘Serambi Mekkah’-nya Kalimantan,” ungkap Zaini.
Suasana pesantren pada Kamis (8/5/2026) tampak lengang lantaran hari libur Jumat. Namun, beberapa santri terlihat sibuk kerja bakti mengusung tangga dan properti. Mereka tengah mempersiapkan acara ‘sanadan’, sebuah seremoni pemberian ijazah atas prestasi hafalan kitab.
Muhammad Fauzan, santri asal Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, menjadi salah satu yang antusias. Pria 21 tahun itu mengaku sudah lulus pendidikan Aliyah di kampungnya, namun memilih mendalami agama di Ponpes Darussalam. “Di sini saya hampir menyelesaikan pendidikan kelas 3 wustho atau setara kelas 3 SMP,” ujarnya. Selama belajar, Fauzan juga aktif di ekstrakurikuler Media Darussalam yang mengurus konten dan informasi seputar pondok.
Ponpes Darussalam membuktikan bahwa tradisi pendidikan agama di Kalimantan Selatan tetap hidup dan relevan. Di usianya yang hampir memasuki 112 tahun, pesantren ini masih menjadi jujugan bagi mereka yang haus akan ilmu agama, menjaga napas Islam tetap mengalir di Martapura.