Pemkot Banjarmasin Gelar Festival Musik Sampah di RTH Teluk Kelayan

Penulis: Udin Syamsul  •  Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:14:28 WIB
Festival Musik Sampah di RTH Teluk Kelayan menampilkan alat musik unik dari barang bekas.

BANJARMASIN — Kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Teluk Kelayan bergemuruh oleh dentuman alat musik unik yang terbuat dari barang bekas selama tiga hari terakhir. Festival Musik Sampah ini merupakan inisiatif kolaboratif antara Pemerintah Kota Banjarmasin dengan Kementerian Kebudayaan melalui dukungan pendanaan LPDP.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin, Ibnu Sabil, menjelaskan bahwa agenda ini bukan sekadar panggung hiburan. Festival tersebut dirancang sebagai ruang edukasi agar masyarakat melihat limbah dari perspektif yang berbeda.

Edukasi Pengolahan Limbah Lewat Instrumen Musik

Pemerintah kota menggandeng akademisi dari Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) bidang kesenian untuk menyukseskan acara ini. Kolaborasi tim dosen dan mahasiswa tersebut berhasil mengolah sampah menjadi perangkat musik yang layak tampil di atas panggung.

"Festival ini kolaboratif dengan Kementerian Kebudayaan. Ada dosen dan mahasiswa Unlam bidang kesenian yang bersama tim sudah berkolaborasi dengan Pemerintah Kota," ujar Ibnu Sabil, Jumat (8/6/2026) sore.

Melalui transformasi barang bekas menjadi karya seni, penyelenggara ingin menanamkan kesadaran bahwa sampah memiliki nilai guna jika dikelola dengan kreativitas. Ibnu Sabil menegaskan bahwa sampah bukan sekadar barang buangan yang harus disingkirkan begitu saja.

"Tujuan utamanya menyampaikan kepada masyarakat bahwa sampah itu bukan barang yang harus dibuang, tetapi bisa dimanfaatkan kembali. Bahkan barang bekas bisa disulap menjadi alat musik," tegasnya.

Upaya Menghidupkan Kembali Aktivitas di RTH Teluk Kelayan

Penyelenggaraan festival ini menjadi strategi Pemkot Banjarmasin untuk mengoptimalkan kembali fungsi RTH Teluk Kelayan. Selama ini, kawasan tersebut dinilai belum maksimal dalam menampung aktivitas publik dan pusat kreativitas warga di Banjarmasin.

Pemanfaatan ruang publik secara rutin diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekosistem seni lokal. Penyelenggara menargetkan generasi muda sebagai sasaran utama agar mereka lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan melalui pendekatan yang lebih menyenangkan.

"Ini juga momentum untuk menghidupkan kembali Taman Teluk Kelayan yang selama ini masih belum maksimal. Harapannya festival musik sampah ini bisa memberi edukasi kepada anak-anak agar membuang sampah pada tempatnya," tambah Ibnu Sabil.

Rangkaian acara ini mencakup pertunjukan musik kreatif, kolaborasi seniman lokal, hingga sesi edukasi praktis mengenai pengolahan sampah. Transformasi Teluk Kelayan menjadi pusat aktivitas warga diharapkan terus berlanjut melalui berbagai agenda kebudayaan di masa mendatang.

Reporter: Udin Syamsul
Sumber: langkar.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top