BANJARBARU — Kabut asap yang menyelimuti Banjarbaru dalam beberapa hari terakhir membuat kualitas udara di kota tersebut berfluktuasi ekstrem pada Rabu pagi. Berdasarkan laman resmi BMKG, konsentrasi PM2.5 di atmosfer sempat berada pada level berbahaya selama tiga jam berturut-turut, sebelum akhirnya turun ke angka 178,1 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 09.00 WITA.
Memasuki pukul 10.00 hingga 12.00 WITA, kondisi udara kembali membaik dan berada pada kategori sedang. Fluktuasi ini dipicu oleh kabut asap yang cenderung lebih pekat pada pagi hari akibat kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di sejumlah titik.
Kategori Berbahaya Hanya Bertahan Tiga Jam
BMKG mencatat periode kritis terjadi pada rentang pukul 05.00–08.00 WITA. Pada jam-jam tersebut, konsentrasi partikel halus mencapai level yang berisiko tinggi bagi kesehatan jika terpapar dalam durasi lama.
Memasuki pukul 09.00 WITA, meski sudah turun dari level berbahaya, kualitas udara masih berada pada kategori sangat tidak sehat. Angka 178,1 µg/m³ untuk PM2.5 tercatat pada jam tersebut — jauh di atas ambang batas harian yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 15 µg/m³.
Bandara Syamsuddin Noor Alami Penurunan Jarak Pandang
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan warga di permukiman. Area sekitar Bandara Syamsuddin Noor juga terpantau mengalami penurunan jarak pandang, yang berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan jika kondisi memburuk.
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang mampu menembus saluran pernapasan hingga ke paru-paru. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat memicu gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan kronis.
Imbauan untuk Warga Banjarbaru3>
Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada level tidak sehat. Penggunaan masker disarankan bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, terutama pada pagi hari saat kabut asap paling pekat.
Potensi kabut asap diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Musim kemarau membuat lahan kering dan mudah terbakar, sehingga risiko karhutla baru tetap terbuka selama kondisi cuaca belum berubah.