MARTAPURA — Pasayangan Barat bukan sekadar wilayah administratif baru di jantung Martapura. Desa yang dimekarkan pada 1978 ini menyimpan akar sejarah panjang serta modal ekonomi yang terus bertumbuh di tengah derasnya arus urbanisasi Kabupaten Banjar.
Terletak di dataran rendah, desa ini berbatasan langsung dengan Kelurahan Pasayangan di utara, Kelurahan Keraton di selatan, Desa Pasayangan Selatan di barat, serta Desa Sungai Sipai di timur. Posisi strategis itu membuat Pasayangan Barat menjadi persimpangan antara kawasan permukiman tua dan pusat pemerintahan Martapura.
Akar Sejarah dan Asal-Usul Nama Pasayangan
Nama Pasayangan sendiri diambil dari wilayah asal sebelum pemekaran. Kawasan ini sejak lama dikenal sebagai salah satu permukiman masyarakat Banjar dengan karakter warga yang ramah, santun, dan memiliki perhatian besar terhadap pendidikan agama.
Gagasan pembentukan desa muncul seiring bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya pembangunan. Para tokoh masyarakat kemudian mewujudkannya pada 1978, menjadikan Pasayangan Barat sebagai desa yang berdiri sendiri dengan nama yang merujuk pada wilayah asalnya.
Banjir Musiman dan Keuntungan Sektor Pertanian
Kondisi geografis yang didominasi dataran rendah membawa konsekuensi tersendiri bagi warga. Banjir musiman menjadi tantangan yang harus dihadapi dari tahun ke tahun, terutama saat curah hujan tinggi.
Namun, karakter tanah yang sama justru menjadi berkah bagi sektor pertanian dan perikanan. Sebagian wilayah desa dimanfaatkan sebagai lahan persawahan dengan padi sebagai hasil utama, sementara lingkungan yang mendukung membuat usaha perikanan turut berkembang menjadi sumber penghasilan warga.
Dari Sawah ke Bengkel: Ragam Mata Pencaharian Warga
Seiring meluasnya kawasan perkotaan Martapura, warga Pasayangan Barat tidak lagi bergantung sepenuhnya pada sektor agraris. Sejumlah warga kini mengembangkan usaha di bidang perdagangan dan jasa.
Usaha penggosokan intan—yang menjadi ikon Martapura—tumbuh berdampingan dengan aktivitas perdagangan, perbengkelan, hingga pekerja sektor konstruksi. Keberagaman ini menunjukkan bahwa ekonomi desa terus bergerak mengikuti perubahan zaman tanpa harus meninggalkan akar budayanya.
Enam Periode Kepemimpinan Sejak 1978
Perjalanan pemerintahan desa ini telah melalui enam periode kepemimpinan. Ahmad Ismail tercatat sebagai pemimpin pertama pada 1978–1983, dilanjutkan Abdurrahman (1983–2002), Bahruddin Zaini (2002–2007), Abu Bakar Bahasyim (2007–2013), dan Syaibatul Hamdi (2013–2019).
Pergantian kepemimpinan tersebut menjadi bagian dari dinamika pembangunan desa dalam meningkatkan pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan.
Tantangan dan Peluang di Tengah Perkembangan Martapura
Sebagai desa di kawasan strategis, Pasayangan Barat menghadapi dua tekanan sekaligus. Di satu sisi, desa dituntut menjaga karakter sosial dan budaya yang telah terbentuk sejak lama. Di sisi lain, perkembangan kawasan perkotaan memaksa desa untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, perekonomian, dan sumber daya masyarakat.
Dengan modal sejarah, potensi pertanian, perikanan, hingga jasa yang dimiliki, Pasayangan Barat memiliki pijakan kuat untuk terus tumbuh. Sejarah panjang sejak 1978 menjadi fondasi bagi masyarakat untuk melanjutkan pembangunan, sekaligus mempertahankan nilai kebersamaan yang menjadi identitas desa.