KALIMANTAN SELATAN — Indonesia berdiri di atas salah satu cadangan panas bumi terbesar di dunia, tetapi kekayaan itu baru sebagian kecil yang diraup. Dari potensi 24 gigawatt (GW), pemanfaatan energi panas bumi nasional saat ini masih di bawah 12 persen. Dari angka itu, PGE memegang sekitar 3 GW wilayah kerja panas bumi (WKP) dengan kapasitas terpasang yang dioperasikan sendiri mencapai 727 megawatt (MW).
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menegaskan, kedaulatan energi tidak cukup diukur dari terangnya lampu rumah warga. Menurutnya, kedaulatan energi berarti bangsa ini mampu menopang pertumbuhan ekonomi dengan kekuatan sendiri, bukan bergantung pada bahan bakar impor.
"Kedaulatan energi dimulai dari kemampuan kita mengandalkan kekuatan sendiri. Indonesia dianugerahi potensi panas bumi yang besar, dan tugas kita adalah mengubah anugerah tersebut menjadi manfaat yang nyata bagi masyarakat," ujar Ahmad Yani.
Keandalan Pembangkit Jadi Modal Transisi Energi
Panas bumi punya keunggulan yang tidak dimiliki sumber energi terbarukan lain. Pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) sanggup beroperasi 24 jam penuh, tidak terganggu cuaca, dan tidak membutuhkan bahan bakar impor. Inilah yang membuat energi ini menjadi tulang punggung transisi energi yang stabil, bukan sekadar pelengkap.
Kinerja operasional PGE sepanjang paruh pertama 2026 membuktikan klaim tersebut. Availability factor pembangkit PGE mencapai 99,71 persen dan capacity factor 90,42 persen. Angka ini menunjukkan pembangkit panas bumi hampir tidak pernah berhenti berproduksi, menjadikannya sumber listrik yang konsisten untuk kebutuhan nasional.
Dari Uap Bumi untuk Pupuk dan Kopi Petani
Kontribusi PGE tidak berhenti di produksi listrik. Perseroan mengembangkan pemanfaatan langsung panas bumi yang menyentuh ekonomi warga di sekitar wilayah operasi. Di Ulubelu, Lampung, PGE menginisiasi inovasi Melon Geothermal yang menggabungkan energi panas bumi dengan transfer pengetahuan bagi petani lokal.
Di Lahendong, Sulawesi Utara, PGE bersama Universitas Gadjah Mada mengembangkan pupuk booster Katrili berbahan silika panas bumi. Pupuk ini dirancang meningkatkan hasil panen, memperkuat ketahanan tanaman, sekaligus menekan biaya produksi petani. Sementara di Karaha, program Eco Eduwisata Kampung Kopi menghasilkan Pupuk COMBINE yang memanfaatkan brine panas bumi dan bahan organik lokal.
Sejak 2018, di Kamojang, PGE bersama petani mengoperasikan Geothermal Dry House. Fasilitas ini memanfaatkan uap buangan dari steam trap untuk mempercepat pengeringan kopi secara efisien dan ramah lingkungan.
Menuju Satu Abad Panas Bumi Indonesia
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini terasa istimewa bagi industri panas bumi nasional. Indonesia akan segera memasuki satu abad perjalanan pengembangan dan pemanfaatan energi dari perut bumi ini. Bagi PGE, momen ini menjadi refleksi sekaligus pijakan untuk melangkah lebih cepat.
Sejumlah proyek strategis tengah disiapkan untuk menambah kapasitas terpasang. Di antaranya PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Sumatra Selatan, PLTP Hululais Unit 1 dan 2 di Bengkulu, PLTP Lahendong Unit 7-8 dan Binary Unit di Sulawesi Utara, serta proyek Gunung Tiga di Lampung.
"Menjelang 100 tahun perjalanan panas bumi Indonesia, kami melihat masa depan dengan optimisme. Jika satu abad terakhir adalah perjalanan untuk membuktikan potensi panas bumi nasional, maka abad berikutnya adalah kesempatan untuk menjadikannya salah satu kekuatan utama Indonesia," kata Ahmad Yani.
Dengan menjaga keandalan operasi dan mempercepat pengembangan proyek, PGE berupaya memastikan panas bumi tidak hanya menjadi sumber listrik bersih, tetapi juga penggerak ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.