BANJARBARU — Ribuan hektare sawah di Kalimantan Selatan mulai mengering di tengah puncak kemarau yang diprediksi berlangsung hingga September mendatang. Data BPTPH per 31 Juli 2026 mencatat luas lahan padi yang terdampak mencapai 6.691 hektare, dengan sekitar 1,3 hektare di antaranya sudah dipastikan puso atau gagal panen.
Kepala BPTPH Kalimantan Selatan, Lestari Fatria Wahyuni, mengatakan pihaknya memperkirakan angka kerusakan masih akan bertambah. "Seiring masih tingginya suhu udara dan belum turunnya hujan, kami memperkirakan luas dampak kekeringan masih berpotensi bertambah," ujarnya di Banjarbaru, Senin.
Empat Kabupaten dengan Sawah Terdampak Terluas
Berdasarkan pendataan terbaru, sebaran lahan kritis terkonsentrasi di wilayah selatan provinsi. Kabupaten Tanah Laut mencatatkan kerusakan terparah dengan total 3.383 hektare, disusul Barito Kuala seluas 1.919 hektare.
Dua wilayah lainnya yang masuk daftar adalah Kabupaten Banjar dengan 622 hektare dan Kabupaten Tanah Bumbu seluas 446 hektare. Adapun kejadian puso tercatat di Barito Kuala seluas satu hektare dan Kota Banjarbaru 0,3 hektare dari total lahan terdampak sekitar 150 hektare.
Persemaian Padi Juga Terancam Kering
Kekeringan tidak hanya menyerang areal tanam, tetapi juga menghambat penyiapan bibit. Hingga akhir Juli, BPTPH mencatat 275 kilogram benih persemaian terdampak, dengan 125 kilogram di antaranya mengalami puso.
Dampak terbesar terjadi di Kabupaten Tanah Bumbu dengan 150 kilogram persemaian terancam meski belum puso. Sementara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, seluruh 125 kilogram persemaian yang terdampak dilaporkan gagal total.
Pompanisasi dan Sumur Pertanian Jadi Andalan
BPTPH telah menginstruksikan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) untuk memantau ketersediaan sumber air di kawasan persawahan secara intensif. Koordinasi juga dilakukan dengan dinas pertanian kabupaten/kota serta Balai Wilayah Sungai Kementerian PU untuk mengoptimalkan pompanisasi.
Khusus di lahan pasang surut seperti Barito Kuala yang memiliki tingkat keasaman air tinggi, petani didorong memanfaatkan sumur pertanian sebagai alternatif pengairan. Pemerintah juga berharap ada dukungan pelaksanaan hujan buatan untuk menekan dampak kekeringan.
Petani Diimbau Tak Bakar Jerami
Menghadapi musim kemarau yang rentan kebakaran lahan, Lestari mengimbau petani yang telah panen untuk tidak membakar sisa tanaman. Ia mendorong pengolahan lahan tanpa bakar dengan memanfaatkan jerami sebagai kompos.
"Jerami dapat dimanfaatkan kembali sebagai kompos melalui pengolahan lahan tanpa bakar sehingga lebih ramah lingkungan dan bermanfaat bagi kesuburan tanah," paparnya. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah meluasnya kebakaran lahan di tengah kondisi cuaca kering.