BMKG Kalsel Peringatkan Udara Kabur Karhutla di Pagi Hari, 7 Daerah Berstatus Awas Kekeringan

Penulis: Toni Haryadi  •  Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:17:01 WIB
BMKG mencatat udara kabur akibat karhutla menyelimuti hampir seluruh Kalsel pada pagi hari.

BANJARBARU — Kondisi langit buram atau keputihan yang menurunkan jarak pandang itu dalam istilah meteorologi disebut udara kabur. BMKG mencatat fenomena ini muncul hampir di seluruh Kalsel pada pagi hari, dengan karhutla sebagai pemicu utamanya.

Memasuki siang, cuaca berangsur berubah menjadi cerah berawan. Suhu udara diperkirakan naik hingga 36 derajat Celsius di sejumlah titik.

7 Daerah Berstatus Awas Kekeringan Meteorologis

Peringatan dini yang dirilis BMKG untuk periode 1-10 Oktober 2026 menetapkan sejumlah wilayah dengan tingkat status berbeda. Kota Banjarbaru, Kota Banjarmasin, Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Tanah Bumbu, dan Kabupaten Kotabaru masuk kategori awas.

Kabupaten Banjar menyusul dengan status siaga, sedangkan Kabupaten Balangan berstatus waspada. Status awas menandakan wilayah tersebut paling rentan mengalami dampak kekeringan pada periode sepuluh hari pertama Oktober.

Apa Itu Udara Kabur dan Mengapa Terjadi di Kalsel

Udara kabur berbeda dari kabut biasa. BMKG mendefinisikannya sebagai kondisi langit yang tampak buram atau keputihan karena partikel di atmosfer menurunkan jarak pandang.

Di Kalsel, karhutla menjadi penyebab utama munculnya kondisi ini. Asap dari titik-titik panas yang tersebar di lahan gambut dan perkebunan terbawa angin hingga menutupi lapisan udara bawah.

Imbauan BMKG untuk Warga di Wilayah Rawan

Masyarakat di daerah yang masuk peringatan dini kekeringan diminta menghemat penggunaan air. BMKG juga mengimbau warga mengantisipasi potensi kekeringan yang bisa berdampak pada pasokan air bersih dan lahan pertanian.

Informasi resmi dari BMKG menjadi rujukan utama selama periode Dasarian I Oktober 2026. Warga diimbau tidak menyebarkan informasi cuaca yang tidak bersumber dari kanal resmi instansi tersebut.

Reporter: Toni Haryadi
Sumber: wartabanjar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top