BANJARMASIN - Wisata gratis di Banjarmasin bukan berarti tidak ada hal menarik untuk dilakukan.
Kota yang dikenal sebagai Kota Seribu Sungai ini mempunyai ruang publik di tepian Sungai Martapura, taman kota, kawasan siring, ikon bekantan, serta jalur kota yang dapat dinikmati tanpa membeli tiket masuk.
Bagi pelancong dengan anggaran terbatas, kuncinya adalah memilih lokasi yang memang berfungsi sebagai ruang publik, menyusun rute berdasarkan kedekatan antarwilayah, dan membedakan objek yang gratis dari aktivitas tambahan yang berbayar.
Dengan cara itu, perjalanan sehari tetap dapat terasa penuh meskipun anggaran utama hanya dialokasikan untuk transportasi dan makanan.
Inilah alasan wisata gratis di Banjarmasin menarik untuk disusun sebagai perjalanan berbasis ruang publik, sungai, sejarah, dan suasana kota.
Pemerintah Kota Banjarmasin sendiri mencantumkan berbagai objek wisata seperti Kampung Sasirangan, Menara Pandang Siring, Patung Bekantan, Museum Wasaka, kawasan Masjid Sultan Suriansyah, serta Taman Siring Sungai Martapura dalam profil kota.
Yang perlu dipahami, “gratis” tidak selalu berarti seluruh aktivitas di dalam kawasan tidak berbayar.
Tiket masuk dapat saja gratis, sementara parkir, makanan, perahu kelotok, atau aktivitas tertentu mempunyai biaya tersendiri.
Banjarmasin cukup menarik untuk dijelajahi dengan konsep rute berjalan dan ruang publik.
Daripada berpindah menggunakan kendaraan setiap satu lokasi, beberapa destinasi pusat kota dapat dirangkai menjadi satu jalur.
Siring Menara Pandang, Taman Siring 0 Kilometer, Patung Bekantan, dan kawasan tepian Sungai Martapura berada dalam ekosistem wisata kota yang saling berkaitan.
Pilih maksimal tiga sampai lima titik dalam satu kawasan.
Gunakan jalan kaki untuk lokasi yang berdekatan.
Datang pada waktu yang nyaman untuk berjalan.
Bawa air minum sendiri.
Pisahkan biaya wisata dan biaya makan.
Hindari aktivitas tambahan berbayar jika target perjalanan benar-benar tanpa tiket.
Cek jadwal objek sebelum berangkat.
Dengan pola ini, biaya perjalanan lebih mudah dikendalikan.
Siring merupakan titik penting untuk memahami karakter Banjarmasin sebagai kota sungai.
Indonesia Travel menjelaskan Siring Kota Banjarmasin sebagai kawasan ruang terbuka publik di sepanjang Sungai Martapura.
Kawasan tersebut membentang di beberapa titik, termasuk Jalan Kapten Pierre Tendean, Jalan RE Martadinata, dan kawasan Nol Kilometer di Jalan Jenderal Sudirman.
Siring menarik bukan karena satu bangunan saja. Daya tariknya justru muncul dari kombinasi sungai, ruang terbuka, aktivitas warga, pedagang, landmark, dan suasana pusat kota.
Berjalan menyusuri tepian sungai.
Melihat aktivitas perahu.
Berfoto dengan latar Sungai Martapura.
Mengamati Patung Bekantan.
Duduk menikmati suasana sore.
Menikmati atmosfer kota pada malam hari.
Mengikuti kegiatan ruang publik jika sedang berlangsung.
Perlu dibedakan antara menikmati kawasan siring dan naik kelotok. Susur sungai menggunakan kelotok merupakan aktivitas tersendiri yang memerlukan biaya.
Menara Pandang menjadi salah satu landmark paling dikenal di kawasan Siring.
Indonesia Travel menyebut Menara Pandang sebagai tempat wisata gratis dan menyebut pemandangan dari atas mencakup Sungai Martapura, Jembatan Antasari, serta kawasan kota. Sumber tersebut juga mencatat akses menuju bagian atas dilakukan melalui tangga.
Sumber Indonesia Travel mengenai Siring menyebut menara mempunyai ketinggian sekitar 30 meter dan pengunjung perlu menaiki 155 anak tangga.
Sumber yang sama menyebut masuk ke lokasi tidak dipungut biaya, meskipun parkir kendaraan dapat dikenakan biaya.
Pagi: udara cenderung lebih nyaman untuk aktivitas luar ruang.
Sore: cahaya lebih lembut dan suasana tepian sungai mulai hidup.
Malam: lampu kota memberikan karakter berbeda pada panorama Banjarmasin.
Informasi jam operasional perlu dicek kembali sebelum berangkat karena jadwal fasilitas publik dapat berubah.
Patung Bekantan merupakan salah satu ikon visual Banjarmasin.
Patung tersebut berada di kawasan Siring dan menjadi titik foto yang mudah dipadukan dengan perjalanan di tepian Sungai Martapura.
Indonesia Travel menyebut bekantan sebagai primata endemik Kalimantan dan maskot fauna Kota Banjarmasin.
Lokasinya cocok untuk persinggahan singkat.
Mulai dari Siring.
Berjalan menuju Patung Bekantan.
Menikmati tepian sungai.
Berlanjut menuju kawasan Menara Pandang.
Istirahat di ruang publik.
Mencari makanan lokal dengan anggaran sesuai kebutuhan.
Rute seperti ini cocok bagi wisatawan yang tidak ingin menghabiskan waktu di kendaraan.
Taman Siring 0 Kilometer menjadi salah satu titik yang dapat dimasukkan dalam rute jalan kaki pusat kota.
Pemerintah Kota Banjarmasin mencantumkan Taman Siring Sungai Martapura dan Menara Pandang sebagai objek wisata kota.
Selain itu, data pemerintah mengenai layanan Wi-Fi publik Banjarmasin mencatat Siring Menara Pandang dan Taman Siring 0 Kilometer sebagai lokasi layanan Wi-Fi gratis pada 2022.
Data 2023 juga mencantumkan Siring Menara Pandang sebagai salah satu titik Wi-Fi publik.
Ketersediaan fasilitas publik seperti ini membuat kawasan siring bukan hanya tempat berfoto, tetapi juga ruang berkumpul masyarakat.
Duduk santai.
Membaca.
Berjalan kaki.
Mengambil foto.
Mengamati lalu lintas kota.
Menikmati suasana sungai.
Jika tujuan utama adalah menghemat biaya, taman kota seperti ini dapat menjadi titik istirahat di antara destinasi.
Taman Kamboja dapat menjadi pilihan bagi yang ingin mencari ruang terbuka hijau di pusat kota.
Data pemerintah Kota Banjarmasin mencatat beberapa titik layanan Wi-Fi publik di kawasan Taman Kamboja, termasuk kawasan air mancur menari.
Taman seperti ini cocok dimasukkan sebagai destinasi santai, bukan sebagai objek yang membutuhkan waktu kunjungan panjang.
Duduk menikmati suasana.
Berjalan santai.
Mengambil foto ruang kota.
Membawa camilan sendiri.
Menjadikan taman sebagai tempat istirahat.
Tetap periksa kondisi kawasan dan jadwal fasilitas karena aktivitas publik dapat berubah.
Balai Kota Banjarmasin berada di Jalan RE Martadinata dan juga tercatat sebagai lokasi layanan Wi-Fi publik dalam data pemerintah kota.
Area pemerintahan bukan berarti otomatis menjadi objek wisata dalam arti konvensional. Namun, kawasan pusat kota dapat dimasukkan ke rute jalan kaki untuk melihat tata ruang dan aktivitas urban Banjarmasin.
Mulai dari kawasan pusat kota.
Berjalan menuju tepian Sungai Martapura.
Lanjut ke Siring 0 Kilometer.
Bergerak menuju Menara Pandang.
Berakhir di kawasan Patung Bekantan.
Rute tersebut lebih masuk akal daripada berpindah kendaraan untuk setiap titik.
Masjid Raya Sabilal Muhtadin merupakan salah satu landmark penting Banjarmasin dan berada dekat kawasan Siring.
Peraturan Wali Kota mengenai kawasan dan titik destinasi wisata sungai mencantumkan Masjid Raya Sabilal Muhtadin sebagai salah satu titik dalam zona wisata sungai Banjarmasin.
Bagi pengunjung yang ingin menikmati wisata kota tanpa membayar tiket, area publik di sekitar landmark dapat menjadi bagian dari perjalanan.
Untuk memasuki kawasan ibadah, tentu perlu memperhatikan waktu ibadah, tata tertib, pakaian, dan aktivitas jamaah.
Arsitektur monumental.
Posisi strategis di pusat kota.
Dekat dengan kawasan siring.
Mudah dipadukan dengan perjalanan pusat kota.
Dengan kata lain, lokasi ini lebih tepat dinikmati sebagai bagian dari rute budaya dan kota, bukan sekadar tempat berfoto.
Banjarmasin mempunyai hubungan kuat dengan kain Sasirangan.
Kampung Sasirangan tercantum dalam daftar objek wisata Kota Banjarmasin dan juga masuk dalam zona destinasi wisata sungai berdasarkan Peraturan Wali Kota.
Mengunjungi kampung atau kawasan produksi kerajinan tidak selalu berarti harus membeli produk. Pengunjung dapat melihat lingkungan, memahami proses budaya, dan mengenal identitas kain khas Banjar.
Tentukan anggaran belanja sejak awal.
Fokus pada pengalaman melihat proses.
Jangan membeli karena dorongan sesaat.
Jika ingin membeli, bandingkan ukuran dan harga.
Pisahkan biaya oleh-oleh dari biaya perjalanan.
Dengan begitu, wisata gratis tetap dapat dilakukan tanpa menghilangkan kesempatan mendukung pengrajin lokal.
Banjarmasin mempunyai Museum Wasaka sebagai salah satu objek sejarah.
Pemerintah Kota mencantumkan Museum Wasaka dalam daftar objek wisata, bersama sejumlah destinasi sejarah lainnya.
Namun, status “wisata gratis” perlu diperiksa berdasarkan ketentuan terbaru. Tidak semua fasilitas publik atau objek wisata mempunyai kebijakan tiket yang sama sepanjang waktu.
Periksa jadwal buka.
Cek apakah ada tiket masuk.
Periksa hari libur operasional.
Pastikan aturan fotografi.
Sisihkan waktu untuk membaca koleksi, bukan sekadar berfoto.
Jika tiket ternyata berlaku, lokasi tersebut masih dapat menjadi pilihan wisata murah, tetapi jangan dimasukkan dalam daftar destinasi gratis secara mutlak.
Car Free Day dapat menjadi pilihan menarik karena menghadirkan ruang publik dalam format berbeda.
Pada Juni 2025, Pemerintah Kota Banjarmasin menguji rute baru CFD dari Siring Nol Kilometer menuju Menara Pandang dan kembali ke titik awal.
Pemerintah kota menjelaskan bahwa kegiatan tersebut ditujukan untuk memanfaatkan ruang publik kawasan ikonik kota dan mendukung aktivitas sehat masyarakat.
Karena rute CFD dapat berubah, informasi jadwal perlu diperiksa kembali sebelum keberangkatan.
Jalan kaki.
Jogging.
Bersepeda.
Berfoto.
Mengamati aktivitas warga.
Menikmati suasana pagi.
Mencari jajanan setelah aktivitas.
CFD sangat cocok untuk keluarga karena kegiatan utamanya tidak membutuhkan tiket masuk.
Bagi wisatawan yang membawa pekerjaan ringan atau membutuhkan akses internet, data pemerintah kota menjadi informasi menarik.
Data 2023 mencatat beberapa titik Wi-Fi gratis, antara lain Siring Menara Pandang, kawasan Dermaga Apung Bekantan, Taman Antasan Kecil Barat, Taman Kamboja, Siring Pemko, dan Kampung Biru Kamelda.
Namun, layanan publik dapat mengalami perubahan, sehingga informasi tersebut lebih tepat dijadikan referensi lokasi, bukan jaminan bahwa koneksi selalu aktif.
Mengecek peta.
Mengirim pesan.
Mencari informasi transportasi.
Mengunggah foto perjalanan.
Mengatur itinerary berikutnya.
Untuk keamanan, hindari mengakses transaksi finansial sensitif melalui jaringan publik.
Rute pertama dapat difokuskan pada kawasan Sungai Martapura.
Siring 0 Kilometer ? Menara Pandang ? Patung Bekantan
Jarak antartitik dapat ditempuh dengan berjalan sesuai kondisi dan rute aktual.
Beristirahat di ruang publik kemudian mencari makan dengan anggaran yang sudah ditentukan.
Kembali ke tepian sungai untuk menikmati suasana menjelang matahari terbenam.
Rute ini tidak membutuhkan banyak tiket karena fokusnya pada ruang publik.
Untuk perjalanan lebih panjang, rute dapat dibuat seperti berikut.
Kawasan pusat kota.
Siring 0 Kilometer.
Menara Pandang.
Patung Bekantan.
Istirahat.
Makan kuliner lokal.
Taman atau kawasan ruang publik lain.
Kampung Sasirangan untuk mengenal kerajinan.
Kembali ke tepian sungai.
Menikmati panorama lampu kota dari kawasan siring.
Mencari kuliner malam sesuai anggaran.
Kunci itinerary ini adalah tidak mengejar terlalu banyak destinasi.
Jika fokus perjalanan benar-benar pada tempat tanpa tiket, biaya terbesar biasanya bukan tiket destinasi, melainkan transportasi dan konsumsi.
Transportasi menuju pusat kota.
Parkir jika membawa kendaraan.
Makan.
Minum.
Oleh-oleh jika diinginkan.
Biaya aktivitas tambahan.
Transportasi pulang.
Dengan membawa air minum sendiri dan memilih berjalan kaki untuk rute yang berdekatan, pengeluaran dapat ditekan cukup jauh.
Salah satu hal penting dalam mencari wisata gratis adalah membedakan lokasi gratis dengan seluruh aktivitas di dalamnya.
Contohnya, kawasan Siring dapat dinikmati tanpa tiket, tetapi susur Sungai Martapura dengan klotok merupakan aktivitas terpisah. Indonesia Travel mencatat layanan klotok sebagai salah satu daya tarik kawasan Siring.
Demikian pula kuliner, parkir, oleh-oleh, dan kegiatan tertentu tetap memerlukan biaya.
Nikmati tepian sungai tanpa naik perahu.
Gunakan ruang publik.
Bawa bekal.
Jalan kaki di antara destinasi.
Hindari belanja impulsif.
Pilih aktivitas komunitas yang memang tidak dipungut biaya.
Wisata gratis hanya dapat bertahan jika ruang publik dijaga lain kawasan Siring Sungai Martapura, Menara Pandang, Patung Bekantan, Taman Siring 0 Kilometer, dan beberapa taman kota.
Pemerintah Kota Banjarmasin mencantumkan sejumlah lokasi tersebut sebagai bagian dari objek wisata dan bersama.
Jangan membuang sampah ke sungai.
Jangan merusak fasilitas taman.
Hormati pedagang.
Jangan menghalangi jalan pengguna lain.
Patuhi aturan kawasan ibadah.
Jaga volume suara.
Awasi anak di dekat tepian sungai.
Kota sungai memiliki hubungan yang sangat dekat dengan air. Menjaga tepian sungai berarti ikut menjaga identitas kota.
Beberapa pilihan ruang publik antara lain kawasan Siring Sungai Martapura, Menara Pandang, Patung Bekantan, Taman Siring 0 Kilometer, dan beberapa taman kota.
Pemerintah Kota Banjarmasin mencantumkan sejumlah lokasi tersebut sebagai bagian dari objek wisata dan ruang publik kota.
Informasi Indonesia Travel menyebut masuk Menara Pandang tidak dipungut biaya, meskipun parkir kendaraan dapat dikenakan biaya.
Jam operasional juga perlu dicek kembali sebelum kunjungan karena kebijakan fasilitas dapat berubah.
Tidak sebaiknya diasumsikan demikian. Susur sungai dengan kelotok merupakan aktivitas wisata tersendiri sehingga perlu menanyakan tarif kepada operator.
Data pemerintah Kota Banjarmasin mencatat beberapa titik layanan Wi-Fi gratis, termasuk Siring Menara Pandang, Taman Kamboja, Siring Pemko, dan kawasan Dermaga Apung Bekantan. Status layanan perlu diperiksa ketika berkunjung.
Pagi dan sore umumnya lebih nyaman untuk aktivitas luar ruang karena tidak seintens siang. Sore juga menawarkan suasana tepian sungai yang lebih hidup.
Untuk kegiatan khusus seperti CFD, jadwal perlu mengikuti pengumuman pemerintah kota.
Banjarmasin membuktikan bahwa perjalanan menarik tidak selalu membutuhkan tiket mahal.
Dengan berjalan di tepian Sungai Martapura, melihat bekantan, menikmati ruang publik, menyusuri kawasan pusat kota, dan menyusun rute secara cermat, wisata gratis di Banjarmasin bisa terasa sederhana sekaligus berkesan.