TANAH LAUT — Rombongan Komisi I DPRD Kalimantan Selatan turun ke kawasan rawa Bati-Bati untuk melihat langsung dampak karhutla yang kembali melanda. Agenda pemantauan ini sekaligus menjadi sarana dialog antara wakil rakyat, aparat desa, dan masyarakat setempat tentang persoalan kebakaran yang hampir rutin terjadi.
Rais Ruhayat memimpin langsung rombongan yang beranggotakan BPBD Provinsi Kalsel, BPBD Kabupaten Tanah Laut, serta relawan gabungan. Mereka menyusuri area terdampak di sepanjang Jalan Bati-Bati untuk memetakan kondisi terkini dan menggali masukan warga.
Dari dialog di lapangan, terungkap dua faktor utama pemicu kebakaran. Faktor pertama adalah alam: kemarau tahun ini membuat kawasan rawa mengering total, sehingga lahan gambut mudah terbakar dan api cepat menjalar ke area yang lebih luas.
Faktor kedua berasal dari aktivitas manusia. Sebagian masyarakat masih memiliki kebiasaan membakar lahan rawa saat kemarau dengan harapan ikan akan banyak masuk saat musim hujan tiba. Selain itu, kelalaian kecil seperti membuang puntung rokok juga berpotensi memicu api.
"Dari masukan yang kami terima, ada kebakaran yang memang disengaja dan ada juga yang tidak disengaja. Sebagian masyarakat masih memiliki kebiasaan membakar lahan rawa saat musim kemarau dengan anggapan ketika musim hujan datang akan banyak ikan masuk ke kawasan tersebut," ujar Rais.
Menurut Rais, penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemadaman saat api sudah membesar. Kondisi sungai dan rawa yang mengering justru membuat upaya pengendalian di lapangan semakin sulit dilakukan.
Komisi I DPRD Kalsel pun mendorong solusi permanen dengan mengoptimalkan lahan-lahan tidur yang selama ini terbengkalai. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) untuk mengkaji potensi pengelolaan lahan rawa secara produktif.
"Kami ingin mendorong agar lahan-lahan yang selama ini tidak dimanfaatkan bisa digunakan untuk kegiatan produktif, seperti berkebun, bercocok tanam, menanam padi, atau usaha pertanian musiman lainnya. Dengan begitu lahan tersebut terawat dan risiko kebakaran dapat ditekan," katanya.
Informasi yang dihimpun di lapangan menunjukkan adanya kawasan dengan karakteristik lahan serupa yang justru jarang terbakar. Perbedaannya terletak pada pengelolaan: lahan yang aktif digarap warga cenderung lebih aman dari kebakaran dibanding lahan yang dibiarkan kosong.
"Intinya, kita tidak hanya berfokus pada penanganan karhutla ketika sudah terjadi. Yang lebih penting adalah bagaimana memaksimalkan dan merawat lahan-lahan tidur ini sejak awal. Jika lahannya produktif dan terkelola dengan baik, maka ketika terjadi kebakaran pun tidak akan mudah meluas seperti yang terjadi sekarang," pungkasnya.
Melalui pemantauan ini, Komisi I DPRD Kalsel berharap penanganan karhutla ke depan bertumpu pada penguatan pencegahan, bukan sekadar pemadaman. Pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat menjadi kunci agar persoalan kebakaran yang berulang dapat ditekan secara terencana dan berkelanjutan.