KANDANGAN — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) memastikan pembelajaran tatap muka kembali digelar mulai Rabu (2/9) setelah kualitas udara membaik. Keputusan ini diambil setelah indeks pencemaran udara turun ke angka 113 dari kondisi pekat yang sempat memaksa penerapan pembelajaran jarak jauh selama dua hari.
KANDANGAN — Aktivitas belajar mengajar di seluruh satuan pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) kembali normal. Setelah dua hari diliburkan akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), para pelajar dipastikan dapat mengikuti pembelajaran tatap muka mulai Rabu (2/9) besok.
Kepala Disdikbud HSS, Ronaldy Prana Putra, dalam keterangannya di Kandangan, Selasa, menyampaikan bahwa pemantauan terakhir kualitas udara pada pukul 15.00 Wita menunjukkan angka 113. Angka tersebut dinilai sudah cukup aman untuk menggelar kegiatan belajar mengajar secara langsung.
Pemantauan kualitas udara menjadi acuan utama dalam pengambilan keputusan ini. Setelah sempat berada di level tidak sehat, kondisi udara di HSS berangsur membaik pada Selasa sore.
"Setelah dua hari kita menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena kabut asap karhutla, maka dari pemantauan kita hari ini, siswa dapat kembali mengikuti pembelajaran tatap muka mulai besok," ujar Ronaldy Prana Putra.
Seluruh guru dan tenaga pendidik telah diinformasikan untuk mempersiapkan kembali proses belajar mengajar. Meski begitu, kebijakan ini tetap bersifat situasional dan bisa berubah sewaktu-waktu.
Kondisi udara di HSS tidak merata. Beberapa wilayah masih terpapar kabut asap cukup tebal, terutama di Kecamatan Kalumpang, sementara Kecamatan Padang Batung dan Loksado dilaporkan berada dalam kondisi relatif aman.
Ronaldy menambahkan, titik kebakaran lahan masih cukup banyak ditemukan hari ini. Tim pemadam kebakaran dan relawan tengah berupaya memadamkan titik-titik api yang tersebar di sejumlah lokasi.
"Kebetulan hari ini ada beberapa titik kebakaran lahan, kawan-kawan pemadam kebakaran dan relawan sedang ada di lapangan. Titik karhutla cukup banyak hari ini, mudah-mudahan dapat teratasi," ungkapnya.
Surat edaran penyesuaian pembelajaran akibat dampak karhutla yang telah diterbitkan sebelumnya masih tetap berlaku. Sekolah memiliki kewenangan penuh untuk menyesuaikan proses pembelajaran jika kondisi udara di wilayahnya kembali memburuk.
"Apabila masih dipandang tidak mengganggu, maka kami persilakan untuk kawan-kawan di satuan pendidikan melaksanakan pembelajaran secara tatap muka," kata Ronaldy.
Kepala sekolah juga diperbolehkan memulangkan peserta didik apabila kualitas udara tiba-tiba memburuk di tengah jam pelajaran. Contohnya, jika pagi hari masih aman namun sekitar pukul 10.00 kabut mulai pekat, siswa dipersilakan pulang demi menjaga kesehatan mereka.
Disdikbud HSS mengimbau para siswa tetap membawa masker sebagai langkah antisipasi, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Pihaknya juga berharap kondisi angin pada malam hari dapat membantu memperbaiki kualitas udara.
Selain itu, sekolah diminta menyisipkan edukasi mengenai bahaya karhutla kepada peserta didik dalam kegiatan belajar.
"Edukasi ini kita nilai penting agar anak-anak memahami dampak kebakaran hutan dan lahan, sekaligus ikut menjaga lingkungan," tambahnya.
Sebelumnya, Disdikbud HSS menerapkan PJJ selama dua hari, yakni Senin (31/8) dan Selasa (1/9), sebagai tindak lanjut memburuknya kualitas udara akibat kabut asap karhutla yang melanda wilayah tersebut.