Luhut: Upah Murah Tak Lagi Jadi Magnet Investasi, Indonesia Diminta Fokus ke AI dan Energi Hijau

Penulis: Udin Syamsul  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:38:01 WIB
Luhut menegaskan upah murah tidak lagi menjadi daya tarik utama investasi di tengah perkembangan kecerdasan artifisial (AI).

KALIMANTAN SELATAN — Luhut menegaskan bahwa perubahan lanskap teknologi global menuntut Indonesia tidak lagi bertumpu pada kuantitas tenaga kerja. Ia meminta jajaran tim ekonomi di DEN untuk mengkaji ulang asumsi dasar pembangunan karena perubahan teknologi berlangsung sangat cepat dan berdampak struktural pada daya saing negara.

"Kalau kita lihat kenaikan inflasi, suku bunga di Amerika dan juga kita lihat sekarang perkembangan AI, asumsi pembangunan ekonomi kita sudah ditulis ulang," ujarnya dalam acara The 13th International Conference On ICT For Smart Society & AI Indonesia Initiative Forum 2026, Jumat (28/8).

Lima Lapisan Rantai Nilai AI dan Posisi Indonesia

Menurut Luhut, rantai nilai AI terdiri dari lima lapisan: semikonduktor dan manufaktur; energi dan pusat data; komputasi dan cloud; model dan data; serta adopsi dan difusi AI. Indonesia tidak perlu menguasai seluruh lapisan tersebut dan harus selektif memilih sektor dengan nilai ekonomi terbesar.

"Kita tinggal pilih, nggak mungkin kita semua masuk kuat. Chip kita akan susah," katanya.

Luhut menyoroti potensi pengembangan pusat data sebagai peluang strategis, terutama dengan memanfaatkan energi terbarukan. Ia mencontohkan potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Kalimantan Utara yang mencapai sekitar 8 gigawatt, yang dinilai mampu mendukung operasional data center berbasis energi hijau.

Bonus Demografi Tak Otomatis Jadi Keunggulan

Pergeseran ini terjadi di tengah tekanan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5%. Luhut menegaskan Indonesia harus tumbuh di atas 5% dalam dua dekade ke depan, meskipun menghadapi situasi global yang tidak menguntungkan.

"Upah buruh murah itu sudah tidak menjadi satu alasan saja karena sekarang AI berkembang," jelasnya.

Luhut memperingatkan bahwa bonus demografi tidak otomatis menjadi keunggulan kompetitif jika peningkatan jumlah tenaga kerja tidak diimbangi produktivitas. Ia menilai penambahan jumlah tenaga kerja saja tidak cukup untuk mempertahankan daya saing ekonomi nasional.

Proyeksi Bank Dunia dan IMF: Produktivitas Kunci Pertumbuhan

Proyeksi lembaga keuangan internasional turut menggarisbawahi pentingnya reformasi produktivitas. Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5% pada 2026 dan 5,2% pada 2027-2028, dengan catatan reformasi produktivitas menjadi kunci mempertahankan momentum pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja.

Sementara itu, IMF dalam laporan Article IV memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,1% pada 2026. IMF menilai peningkatan pertumbuhan jangka menengah membutuhkan penguatan produktivitas, investasi, teknologi, dan kualitas tenaga kerja.

Model Data dan Adopsi AI: Peluang Terbesar Indonesia

Di tengah persaingan global yang semakin bertumpu pada penguasaan infrastruktur komputasi, Luhut menilai Indonesia memiliki keunggulan komparatif pada sektor model dan data. Ia juga menyebut penerapan atau adopsi AI sebagai salah satu sumber nilai ekonomi terbesar yang bisa dimanfaatkan.

Menurut Luhut, penguasaan aset AI tidak hanya persoalan ekonomi, tetapi juga kepentingan strategis negara. Perubahan kebijakan ekspor produk terkait AI membuat akses terhadap chip dan komputasi menjadi isu krusial yang harus diantisipasi dalam perencanaan pembangunan nasional.

Reporter: Udin Syamsul
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top