Kabut Asap Semakin Pekat di Banjar, DPRD Desak Disdik Ambil Keputusan Tegas Soal Masuk Sekolah

Penulis: Udin Syamsul  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 09:02:31 WIB
Pelajar terlihat berjalan di tengah kabut asap yang menyelimuti kawasan Banjar, Kalimantan Selatan.

MARTAPURA — Politisi PAN itu menyoroti masih banyaknya pelajar yang tetap berangkat ke sekolah tanpa masker di tengah kondisi udara yang memburuk. Ia menilai kelambanan pemerintah daerah dalam memutuskan kebijakan justru membuat sekolah, guru, orang tua, dan siswa berada dalam ketidakpastian.

“Kemarin sudah saya sampaikan, kabut asap semakin parah, dan hari ini ternyata lebih parah lagi. Harusnya sekolah bisa diundur jam masuknya atau diliburkan saja karena ini menyangkut kesehatan anak-anak dan tenaga pengajar,” ujar Kursani kepada awak media.

Jangan Menunggu Sekolah yang Meminta

Kursani menegaskan bahwa keputusan untuk meliburkan atau mengundur jam masuk sekolah semestinya tidak dibebankan kepada masing-masing satuan pendidikan. Ia meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjar, dalam hal ini Kepala Disdik, untuk bertindak tanpa menunggu permintaan dari pihak sekolah.

“Saya minta Pemkab Banjar, tentunya melalui Kadisdik Banjar, mengambil langkah-langkah tegas terkait ini. Jangan menunggu sekolah yang meminta. Akan lebih baik apabila dari dinas langsung memberikan ketegasan, apakah diliburkan atau jam masuk sekolah diundur,” tegasnya.

Miris Melihat Pelajar Tanpa Masker

Kekhawatiran Kursani bukan tanpa alasan. Ia mengaku menyaksikan langsung anak-anak yang masih harus berangkat sekolah saat kabut asap menyelimuti lingkungan. Bahkan, sebagian dari mereka tidak mengenakan masker, padahal risiko gangguan kesehatan di tengah polusi udara sangat tinggi.

“Saya pagi ini sungguh miris melihat anak-anak turun sekolah. Bahkan ada yang tidak memakai masker. Tentu saja ini berbahaya bagi kesehatan mereka,” katanya.

Pencegahan Jauh Lebih Baik daripada Mengobati

Menurut Kursani, prinsip kehati-hatian harus menjadi dasar utama dalam menentukan kebijakan di tengah kondisi udara yang tidak sehat. Ia mengingatkan agar pemerintah tidak menunggu hingga ada anak yang kesehatannya terganggu untuk kemudian baru mengambil tindakan.

“Sekali lagi, perlu ketegasan kepala dinas. Jangan sampai kita baru mengambil tindakan setelah ada anak yang kesehatannya terganggu. Pencegahan tentu jauh lebih baik,” tambahnya.

Desakan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan kabut asap tidak hanya berkaitan dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dampaknya telah menyentuh aktivitas masyarakat, termasuk dunia pendidikan.

Koordinasi dan Kewaspadaan Orang Tua

Kursani pun mendorong Dinas Pendidikan untuk berkoordinasi dengan instansi terkait guna memantau kondisi lingkungan dan kualitas udara sebelum menentukan kebijakan kegiatan belajar mengajar. Sementara itu, orang tua juga diminta meningkatkan kewaspadaan dengan memastikan anak-anak menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar rumah.

Kini, keputusan berada di tangan Pemerintah Kabupaten Banjar. Ketika kabut asap semakin pekat dan anak-anak tetap berada di jalan menuju sekolah, publik menunggu langkah konkret dari Disdik untuk memprioritaskan keselamatan generasi muda. Keputusan yang jelas dan cepat dinilai jauh lebih baik daripada membiarkan situasi berlarut tanpa kepastian.

Reporter: Udin Syamsul
Sumber: matarakyat.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top