PARINGIN — Indeks Kualitas Udara (AQI) di wilayah Paringin tercatat berada di kisaran 67 hingga 129, angka yang menunjukkan kondisi udara telah memasuki level sedang hingga tidak sehat untuk kelompok sensitif. Kabut asap tipis mulai terlihat menyelimuti sejumlah kawasan permukiman pada pagi dan sore hari, dengan suhu udara berkisar antara 20 hingga 36 derajat Celsius.
Penurunan kualitas udara ini dipicu oleh meningkatnya titik panas (hotspot) yang menjadi indikasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan. Arah angin dari tenggara membawa asap menuju Balangan, sementara kecepatan angin yang rendah pada pagi hari membuat partikel asap terperangkap di lapisan bawah atmosfer.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Balangan, Ahmad Sauki, mengatakan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menemukan adanya peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di masyarakat.
"Dari sisi surveilans epidemiologi juga belum ada lonjakan ISPA," ujarnya, Rabu (19/8/2026).
Meski demikian, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. Masyarakat diminta untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker sebagai langkah pencegahan utama mengurangi dampak paparan asap.
Dinkes Balangan secara khusus mengingatkan warga untuk sementara waktu menghindari aktivitas olahraga di ruang terbuka. Imbauan ini berlaku terutama pada sore hingga malam hari, saat konsentrasi asap cenderung meningkat dan berisiko lebih besar bagi kesehatan.
"Kalau udara kurang baik, sebaiknya jangan olahraga terlebih dahulu. Meskipun olahraga, kalau terpapar asap justru tidak sehat," jelas Sauki.
Masyarakat yang mengalami gejala gangguan pernapasan seperti batuk, sesak napas, atau iritasi tenggorokan diminta untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Sauki menegaskan bahwa pengobatan ISPA di puskesmas tidak dipungut biaya karena ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
"Pengobatan ISPA di puskesmas gratis karena dibiayai BPJS. Jadi masyarakat jangan takut berobat," pungkasnya.
Dinkes Balangan akan terus memantau perkembangan kualitas udara dan data kasus ISPA di seluruh puskesmas. Jika terjadi lonjakan kasus, langkah-langkah penanganan cepat akan segera diambil untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas bagi warga.