KALIMANTAN SELATAN — Alih-alih menunggu konsumen datang ke dealer, Asmo Sulsel memilih mendekatkan diri ke konsumen institusi. Melalui skema company visit, pabrikan berlogo sayap ini menggelar layanan servis keliling, pameran produk, hingga sesi uji kendara motor listrik di lingkungan kerja pegawai negeri. Pendekatan ini terbilang efektif untuk menjangkau pengguna yang tidak memiliki waktu luang untuk sekadar singgah ke bengkel resmi.
Program Group Customer yang diperkenalkan Asmo Sulsel bukanlah sekadar kegiatan sosial. Ini adalah kanal penjualan khusus yang menyasar kebutuhan kendaraan operasional untuk lembaga pemerintah, BUMN, hingga perusahaan swasta. Penawaran utamanya bukan hanya harga khusus, melainkan kemudahan proses pengadaan dan kepastian layanan purna jual yang terstruktur.
Bagi instansi yang selama ini kesulitan mengurus administrasi pengadaan armada, skema ini memangkas birokrasi. Pihak dealer Honda Ambon Sakti Motor bertindak sebagai mitra langsung yang menangani kebutuhan dari pengajuan hingga serah terima unit.
Di tengah pameran model konvensional, perhatian utama tertuju pada sesi test ride Honda EM1 e:. Motor listrik ini diposisikan sebagai kendaraan ramah lingkungan yang cocok untuk mobilitas harian, terutama di lingkungan perkantoran dengan jarak tempuh pendek hingga menengah.
Dari sesi uji kendara yang berlangsung, peserta bisa langsung merasakan karakter akselerasi motor listrik yang responsif tanpa getaran mesin. Namun, perlu dicatat bahwa EM1 e: bukan motor untuk perjalanan jauh. Kapasitas baterainya yang dapat dilepas lebih dirancang untuk pola penggunaan city riding—dari rumah ke kantor atau antar-gedung pemerintahan—bukan untuk touring antar kota.
Angka 26 unit motor yang diservis dalam satu hari adalah bukti nyata efisiensi program ini. Para pegawai tidak perlu mengajukan cuti atau izin keluar kantor hanya untuk servis berkala. Teknisi Honda yang datang ke lokasi menangani perawatan rutin seperti penggantian oli, pengecekan kelistrikan, dan penyetelan komponen langsung di halaman parkir kantor.
Bagi manajemen instansi, ini juga menguntungkan: produktivitas karyawan tidak terganggu karena waktu tunggu servis yang biasanya memakan setengah hari kerja bisa ditekan menjadi hitungan jam.
Meski terdengar menarik, ada beberapa hal yang perlu dicermati instansi sebelum bergabung dalam program ini. Pertama, layanan servis kunjung gratis ini bersifat event-based, bukan layanan berlangganan bulanan. Frekuensi kunjungan berikutnya tidak dijelaskan secara gamblang dalam rilis—apakah akan datang lagi dalam 3 bulan atau 6 bulan ke depan.
Kedua, cakupan servis yang dilakukan di lokasi biasanya terbatas pada perawatan ringan. Untuk kerusakan besar seperti masalah pada sistem injeksi atau transmisi CVT, unit tetap harus dibawa ke bengkel resmi. Jadi, program ini lebih tepat disebut sebagai maintenance check daripada pengganti total layanan bengkel.
Ketiga, untuk motor listrik EM1 e:, infrastruktur pengisian daya di area perkantoran pemerintah masih menjadi pertanyaan. Tanpa stasiun pengisian yang memadai di kantor, potensi EM1 e: sebagai kendaraan operasional harian belum bisa dimaksimalkan.
Program company visit yang digagas Asmo Sulsel ini layak diapresiasi sebagai upaya membangun loyalitas konsumen korporat. Bagi pegawai, servis gratis di lokasi kerja adalah nilai tambah yang nyata—menghemat waktu dan biaya transportasi ke bengkel.
Namun, keputusan untuk membeli armada institusi—baik motor konvensional maupun listrik—tidak boleh serta-merta didasari oleh hadirnya layanan servis keliling. Pertimbangkan kebutuhan operasional jangka panjang, ketersediaan suku cadang di Ambon, dan biaya perawatan berkala sebelum menandatangani kontrak pengadaan. Program ini adalah pintu masuk yang baik untuk mengenal produk Honda lebih dekat, tetapi keputusan akhir tetap harus berdasarkan kalkulasi kebutuhan dan anggaran instansi.