KALIMANTAN SELATAN — Data Kementerian Kesehatan menunjukkan nilai impor farmasi Indonesia pada 2025 mencapai US$ 1,33 miliar atau sekitar Rp 24,05 triliun (kurs Rp 18.080 per dolar AS). Adapun ekspor farmasi hanya US$ 744 juta (Rp 13,45 triliun). Defisit lebih dalam terjadi di sektor alat kesehatan: impor alkes tembus US$ 2,1 miliar (Rp 37,97 triliun), sementara ekspornya cuma US$ 589 juta (Rp 10,65 triliun).
Administrator Kesehatan Kementerian Kesehatan Tian Nugraheni mengungkapkan, dari total produk alkes yang beredar di Indonesia, sebanyak 59.000 produk merupakan barang impor, sedangkan produk lokal hanya 19.000. Ketimpangan juga terlihat dari variasi jenis: produk alkes dalam negeri baru mencapai 511 jenis, sementara produk impor mencakup lebih dari 1.600 jenis.
"Nilai impor mencerminkan bahwa permintaan pasar kami masih menyimpan peluang besar untuk investasi baru, kemitraan lokal, dan perluasan pasar," kata Tian dalam acara World Health Expo (WHX), International Healthcare Week 2026 di Bangkok, Thailand, Rabu (8/7).
Indonesia memiliki 284 juta penduduk, dengan 98,3% tercakup dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Infrastruktur pendukung meliputi lebih dari 3.000 rumah sakit, 10.000 puskesmas, 2.000 klinik swasta, dan 1.000 laboratorium. Tian menyebut, sekitar 79% kebutuhan alkes nasional masih dipenuhi impor, membuka ruang bagi investor untuk membangun manufaktur lokal, alih teknologi, dan kemitraan dengan produsen dalam negeri.
Prospek pasar alat kesehatan nasional diproyeksikan tumbuh menjadi US$ 3,5 miliar (Rp 63,28 triliun) hingga US$ 5,1 miliar (Rp 92,21 triliun) pada 2030. "Indonesia bukan hanya merepresentasikan pasar yang besar, tetapi juga basis potensial untuk hubungan jangka panjang dengan produsen serta ekspansi regional, khususnya untuk alat kesehatan," ujar Tian.
Meski potensi pasar menggiurkan, rantai pasok masih menjadi kendala. Sebagai negara kepulauan, distribusi dan logistik alkes terfragmentasi. Tian menilai kondisi ini justru menjadi peluang untuk membangun platform distribusi digital dan sistem manajemen rantai pasok yang lebih kuat.
Pemerintah tengah mendorong transformasi sistem kesehatan pasca-pandemi melalui enam pilar strategis, termasuk penguatan ketahanan sektor farmasi dan alkes. Fokusnya adalah meningkatkan kapasitas produksi domestik untuk vaksin prioritas, produk farmasi, dan alat kesehatan berteknologi tinggi. "Sistem ketahanan kesehatan akan terwujud apabila ketersediaan obat dan alat kesehatan dapat terjaga secara konsisten di seluruh tingkat layanan kesehatan," tegas Tian.