KALIMANTAN SELATAN — Laporan terbaru dari lembaga riset TrendForce memberikan sedikit angin segar bagi konsumen yang menanti harga memori lebih murah. Meski harga masih akan naik, kecepatan kenaikannya tidak akan setajam beberapa kuartal sebelumnya. Produsen PC dan ponsel pintar disebut sudah mencapai batas kemampuan mereka dalam menyerap kenaikan biaya komponen.
TrendForce memproyeksikan harga kontrak DRAM konvensional di Q3 2026 naik 13-18 persen secara kuartalan (QoQ). Sementara harga kontrak NAND Flash diprediksi naik 10-15 persen. Angka ini masih cukup besar, tapi jauh lebih rendah dibanding lonjakan sekitar 60 persen yang terjadi di Q2 2026.
Penyebab perlambatan ini bukan karena pasokan memori yang membaik, melainkan karena produsen perangkat elektronik konsumen sudah tidak sanggup lagi meneruskan kenaikan harga ke konsumen. Pasokan memori masih ketat, tetapi permintaan dari sektor PC dan ponsel mulai melemah.
Kecerdasan buatan (AI) tetap menjadi pendorong utama kenaikan harga memori. Permintaan dari sistem inferensi AI dan pusat data skala besar masih kuat sehingga pasokan DRAM dan NAND tetap terbatas. Produsen memori juga terus mengalihkan kapasitas produksinya ke produk server dengan margin lebih tinggi.
Akibatnya, kapasitas produksi untuk memori konsumen semakin berkurang. Hal ini mencegah harga turun meskipun permintaan dari PC dan ponsel pintar melemah. Pasar memori kini semakin terbelah antara pelanggan enterprise dan konsumen.
Di sisi server, TrendForce memperkirakan permintaan tetap sehat hingga 2027 seiring ketersediaan CPU yang membaik. Namun, harga DRAM server diperkirakan tetap moderat karena sebagian pembelian sudah tercakup dalam perjanjian pasokan jangka panjang.
Nasib berbeda dialami pasar konsumen. Produsen laptop diperkirakan masih akan mengisi ulang stok, tapi biaya memori yang tinggi perlahan mulai terasa di harga ritel. TrendForce menilai tren ini bisa menekan pengiriman PC hingga akhir tahun.
Produsen ponsel pintar juga menghadapi tekanan serupa. Banyak yang diperkirakan akan menaikkan harga jual ponsel untuk mengimbangi biaya LPDRAM (low-power DRAM) yang terus tinggi. Produsen juga mulai lebih berhati-hati dalam merencanakan produksi seiring melemahnya permintaan konsumen.
Pola serupa mulai terlihat di produk penyimpanan. Produsen PC sudah mengumpulkan stok SSD klien yang cukup besar selama paruh pertama 2026. Akibatnya, mereka enggan menerima kenaikan harga lagi. Pemasok pun merespons dengan pendekatan yang lebih fleksibel dalam negosiasi kontrak, membantu menahan kenaikan harga SSD.
Sementara itu, permintaan untuk GDDR7 dari kartu grafis NVIDIA RTX PRO 6000 Blackwell belum sesuai ekspektasi. Pengiriman laptop yang lemah juga menekan permintaan memori grafis. Produk ritel seperti USB flash drive dan kartu memori juga masih lesu karena biaya hulu yang tinggi sulit dibebankan ke konsumen.
Bagi perakit PC, laporan ini menegaskan bahwa harga memori yang lebih murah masih belum akan terjadi dalam waktu dekat. Harga terus naik karena infrastruktur AI masih menjadi prioritas utama industri. Kabar baiknya, laju kenaikan mulai melambat karena permintaan konsumen sudah mencapai titik puncaknya.