KALIMANTAN SELATAN — FIFA mengumumkan temuan mengkhawatirkan terkait perang sihir di dunia maya selama Piala Dunia 2026. Melalui sistem SMPS yang dioperasikan sejak 2022, federasi sepak bola dunia mencatat adanya peningkatan drastis serangan verbal terhadap pemain, pelatih, dan ofisial.
“Ujaran kebencian tidak memiliki tempat di sepak bola atau masyarakat. Kami menegaskan kembali komitmen tanpa henti untuk memberantas pelecehan diskriminatif dalam segala bentuknya,” ujar Presiden FIFA Gianni Infantino dalam pernyataan resmi, Jumat (19/6) pagi WIB.
Dalam periode sejak turnamen dibuka pada 11 Juni lalu, SMPS mengidentifikasi 5,5 juta unggahan bermuatan kebencian yang tersebar dari 50 bahasa berbeda. Angka ini melonjak lima kali lipat dibandingkan total temuan selama Piala Dunia 2022.
FIFA langsung mengambil langkah tegas. Setelah ditinjau menggunakan kecerdasan buatan (AI), sebanyak 530 ribu konten negatif diajukan ke platform media sosial untuk dihapus. Jumlah ini nyaris dua kali lipat dari 287 ribu konten yang dihilangkan pada edisi empat tahun lalu.
Infantino menegaskan bahwa pelecehan yang menyasar individu di lapangan merupakan ancaman serius bagi integritas olahraga. “Ketika pemain, pelatih, dan wasit menjadi sasaran, itu adalah serangan terhadap sepak bola itu sendiri,” tegasnya.
Sejak pertama kali diterapkan pada Piala Dunia 2022, SMPS telah menghilangkan lebih dari 30 juta unggahan kasar yang ditujukan kepada para pemangku kepentingan sepak bola. Sistem ini bekerja dengan memonitor akun-akun resmi peserta turnamen dan melaporkan konten yang melanggar kebijakan platform.
Fakta lain yang mengejutkan, dalam pekan pertama Piala Dunia 2026 saja, jumlah konten yang diajukan FIFA ke platform media sosial sudah melampaui total keseluruhan edisi 2022. Hal ini menunjukkan eskalasi masif serangan digital yang terjadi di tengah euforia turnamen global.
FIFA belum merinci platform mana yang paling banyak menyumbang ujaran kebencian atau negara asal pelaku. Namun, langkah agresif melalui SMPS diharapkan bisa menjadi efek jera dan melindungi para pesepak bola dari tekanan psikologis di luar lapangan.