BANJARMASIN — Penghargaan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa ini bukan sekadar seremoni. Wali Kota Muhammad Yamin HR menegaskan bahwa bahasa Banjar harus tetap hidup, bukan sekadar menjadi monumen budaya yang tersimpan di museum.
“Bahasa daerah tidak boleh hilang ditelan zaman. Pemerintah ingin generasi muda tetap mengenal, menggunakan, dan bangga terhadap bahasa Banjar sebagai bagian dari identitas budaya daerah,” ujar Yamin seusai menerima penghargaan.
Menurut Yamin, tantangan terbesar pelestarian bahasa daerah justru datang dari lingkungan yang paling dekat dengan generasi muda: ruang digital dan perkotaan. Penggunaan bahasa Banjar di media sosial dan percakapan sehari-hari terus menurun, tergerus bahasa gaul dan bahasa asing.
Namun, kondisi itu juga membuka celah baru. “Kami ingin bahasa Banjar tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu berkembang mengikuti zaman dan dekat dengan generasi muda,” katanya.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Ryan Utama, menyebut penghargaan ini menjadi momentum untuk memperkuat program yang sudah berjalan. Pihaknya tidak ingin revitalisasi berhenti pada acara seremonial belaka.
“Kami ingin revitalisasi bahasa daerah tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi benar-benar hadir dalam proses pendidikan, kegiatan seni budaya, dan kehidupan sosial peserta didik,” ucap Ryan.
Ia menambahkan, sekolah memiliki peran kunci dalam menanamkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya lokal kepada para siswa sejak pendidikan dasar.
Pemkot Banjarmasin telah menyiapkan sejumlah langkah konkret untuk menjaga eksistensi bahasa Banjar. Setidaknya ada empat program utama yang akan diperluas:
Langkah-langkah ini diharapkan mampu menjaga eksistensi bahasa daerah di tengah modernisasi, sekaligus memperkuat karakter generasi muda agar tetap memiliki akar budaya yang kuat. Penghargaan nasional ini menjadi bukti bahwa upaya Banjarmasin selama ini berada di jalur yang tepat.